
Di sampul awal pada karya ini tertuliskan “Hadza Kitab Dua Puluh”, yang menjadi judulnya. Kitab ini dikarang oleh Tengku Abu Bakar, seorang cendekia anggota Rusydiah Klub di yang berkedudukan di Pulau Penyengat. Berdasarkan keterangan di bagian depannya, kitab ini selesai ditulis pada 23 Syawal 1320 atau bertepatan pada 22 Januari 1903. Saat ini, kitab ini berada di Balai Maklumat di bawah Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat. Sedangkan naskah digital dapati diakses melalui laman https://eap.bl.uk/archive-file/EAP153-11-17#.
Secara fisik, karya ini ditulis pada sebuah buku tulis, bukan buku cetak sebagaimana yang sudah dikenal pada masa itu. Total jumlah halaman buku sebanyak 32 halaman, tetapi ada empat halaman di bagian akhir yang tidak digunakan atau tidak terdapat tulisan di dalamnya. Model huruf yang digunakan lebih dekat pada model huruf riq’ah dengan model modifikasi penulisnya–yang terkadang menggunakan model farisi. Penulis menggunakan tinta warna hitam dan merah dalak buku ini. Secara keseluruhan, haruf yang termaktub di atas kertas itu masih dapat dibaca dengan baik.
Kitab ini membahas tentang teologi atau ilmu kalam sebab pokok bahasannya ialah tentang 20 sifat Allah, sebagaiman umumnya dalam teologi ahlussunnah wal jamaah. Bagian awal kitab ini langsung membahas tentang tiga jenis suci, yakni suci syariat, suci thariqat, dan suci ma’rifat. Penulis mengumpamakan hal ini seperti salat, yang mengharuskan bagi setiap orang agar suci sejak sebelum salat dilaksanakan hingga akhir dari salat itu sendiri.
Makna suci syariat yang dimaksud dalam kitab ini ialah menghilangkan bau, rasa, dan rupa-rupa yang berada pada tempat yang akan dicuci, baik yang terlihat ataupun yang tersembuyi. Maknanya, setiap orang harus suci dari hadas, baik hadas kecil (bersuci setelah terkena najis) ataupun hadas besar (suci dari junub, haid, nifas, dan lainnya).
Sedangkan suci thariqat ialah suci hati, dengan menghilangkan rasa waswas dan selalu ingat Allah dengan tulus ikhlas. Maknanya, bersih hati ini yakni menghilangkan segala macam penyakit hati (seperti ria, dengki, kikir, bakhil dan sebagainya) sehingga yang ada adalah rasa tulus dan ikhlas karena Allah saja.
Sementara suci ma’rifat ialah suci hatinya dengan selalu mengingat Allah. Hal ini tidak boleh goyah oleh hal-hal lain yang dapat menganggu keimanan dan kekhusuan seseorang dalam beribadah kepada Allah.
Dia akhir bagian awal ini Tengku Abu Bakar menulis, “suci syariat itu bagi syarat sembahyang karena batal sembahyang ketiadaan syarat batal sembahyang karena ketidaan suci thariqat dan hakikat. Karena yang dua ini satu syarat yang batin di dalam sembahyang karena satu rukunnya dari pada orang Islam. Dan barang siapa tiada suci hatinya dan jiwanya daripada cita-cita yang lain daripada Allah ta’ala hukumnya seperti hukum binatang. Demikianlah adanya.”
Konseptualisasi Sifat Dua Puluh
Bahasan selanjutnya pada kitab ini yakni pembahasan inti tentang sifat 20 bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Di kalangan masyarakat melayu Kepulauan Riau, biasanya sudah cukup lumrah mengenal sifat 20 bagi Allah itu. Hal itu sering diajarkan oleh para guru mengaji di surau-surau kepada anak muridnya. Begitu juga pada umumnya di seluruh Nusantara.
Adapun 20 sifat itu ialah wujud (وجود), qidam (قدم), baqa’ (بقاء), mukhalafatu lilhawadisi (مخالفة للحوادث), qiyamuhu binafsihi (قيامه بنفسه), wahdaniyat (وحدانية), qudrat (قدرة), iradat (إرادة), ‘ilmu (علم), hayat (حياة), sama’ (سمع), basar (بصر), kalam (كلام), qadiran (قادرًا), muridan (مريدًا), ‘aliman (عالمًا), hayyan (حيًّا), sami’an (سميعًا), basiran (بصيرًا), dan mutakalliman (متكلمًا).
Setiap sifat itu diberikan penjelasan satu persatu oleh Tengku Abu Bakar. Pada lembaran selanjutnya, setiap menulisan sifat menggunakan tinda warna merah. Penjabaran sangat singkat dan padat dengan argumentasi yang cukup sederhana agar mudah dicerna.
Tetapi, pola penulisan tidak konsisten. Pada bagian awal, sifat itu ditulis langsung, seperti “bashar artinya…..”. Sedangkan di bagian lain dimulai dengan kata “kaunuhu ta’ala” kemudian dilanjutkan dengan nama sifat yang akan dibahas, seperi “kaunuhu ta’ala qadirun artinya…..”. Artinya, pada beberapa bagian keterangan kitab ini sering menggunakan bahasa Arab sebagai pelengkap atau penguatan istilah yang lumrah dalam bidang suatu keilmuan.
Pada halaman delapan Tengku Abu Bakar mulai mengkategorisasikan sifat 20 ini kepada beberapa bagian. Ia menulis:
“Adapun sifat yang dua puluh itu terbagi menjadi empat. Bagi pertama sifat nafsiyah, yaitu satu wujud. Dan bagi yang kedua sifat salbiyah, yaitu lima sifat pertama qidam, baqa’, mukhalafatu lilhawadisi, qiyamuhu binafsihi, wahdaniyat. Dan bagi sifat yang ketiga sifat ma’ani, yaitu tujuh sifat yaitu qudrat, iradat, ‘ilmu, hayat, sama’, basar, kalam. Dan bagi yang keempat, sifat ma’nawiyah yaitu tujuh sifat pertama kaunuhu ta’ala qadiran, kaunuhu ta’ala muridan, kaunuhu ta’ala ‘aliman, kaunuhu ta’ala hayyan, kaunuhu ta’ala sami’an, kaunuhu ta’ala basiran, kaunuhu ta’ala mutakalliman.” (halaman 14)
Sebagaimana yang umum dalam pemahaman teologi ahlussunah, bahwa sifat-sifat itu bermuara pada konsep la ilaaha illallah. Konsep tauhid inilah yang kemudian yang memancarkan menjadi sifat-sifat Allah sehingga segala sesuatu yang bertentangan dianggap sebagai sebagai kabalikannya atau sesuatu yang mustahil. Bagian ini dijelaskan cukup panjang dalam kitab ini.
Menariknya, sebagai upaya untuk memudahkan penjelasan, Tengku Abu Bakar membuat bagakan ataupun skema hubungan sifat-sifat itu dengan konsep-konsep yang dibangun. Berikut cuplikan dari buku itu.

Dengan penjabaran yang demikian terstruktur itu, maka akan memudahkan pembaca untuk memahami. Pola-pola penjelasan dengan model seperti ini dipaparkan mulai dari halaman 13 hingga 17.
Uraian tentang Salat
Walaupun kitab ini diberi nama “Kitab Dua Puluh” tetapi isinya juga mebahas tentang sembahyang. Perlu pembaca ketahui, yang dimaksud dengan kata sembahyang dalam kitab ini ialah salat. Kata “sembahyang” sendiri berasal dari bahasa Nusantara kuno yang terdiri dari dua kata, yakni “sembah” yang berarti berarti menghormat/menyembah, dan “hyang” berarti dewa, leluhur, atau tuhan. Artinya, dahulu kegiatan sembahyang itu dilakukan oleh penganut agama dan kepercayaan pada umumnya. Namun, pada masa kini, sembahyang identik dengan makna salat dalam Islam.
Kembali pada konten kitab ini. Tengku Abu Bakar menuliskan perihal salat ini mulai dari halaman 18 hingga bagian atas halaman 23. Sama halnya dengan pembahasan tentang tauhid ataupun teologi, Tengku Abu Bakar memberikan ulasan yang lumayan panjang tentang salat ini. Ia memiliki pendekatan yang unik dibandingkan dengan kitab-kitab fikih pada umumnya, karena tidak membahasa tentang syarat dan rukun, jenis-jenis salat, ataupun hal-hal yang terkait bidang fikihnya. Menurut saya, uraian tentang salat dalam kitab ini lebih kepada pendekatan filosofis.
Tengku Abu Bakar menguraikan tentang salat lima waktu yang berkaitan dengan karena bersumber dari kata “alhamdu” (ٱلْحَمْدُ). Waktu pertama ialah Zuhur yang keluar dari huruf “alif” dan dikerjakan pertama kali oleh nabi Ibrahim. Kedua adalah waktu Ashar yang lahir dari huruf “lam” dan pertama kali dikerjakan oleh Nabi Yunus. Waktu ketiga adalah Maghrib yang keluar dari huruf “ha” dan dikerjakan pertama kali oleh Nabi Isa. Waktu keempat adalah Isya yang menjelma dari huruf “mim” dan dikerjakan pertama kali oleh Nabi Musa. Waktu kelima adalah Subuh yang berasal dari huruf “dal” dan dilaksanakan pertama kali oleh Nabi Adam. (lihat halaman 18)
Uraian tentang nabi yang pertama melaksanakan salat serupa dengan tulisan Syeik Nawawi al-Bantani dalam kitab Sullamu al-Munaajat di bagian tentang hikmah salat. Dalam kitab Syeikh Nawawi, uraiannya lebih panjang lagi termasuk alasan munculnya rakaat-rakaat dalam salat itu.
Di bagian lain, Tengku Abu Bakar juga menerangkan tentang jumlah rakaat pada setiap salat itu dikaitkan dengan anggota tubuh. Sedangkan di bagian lainnya lagi, ia juga mengaitkannya dengan Nabi dan empat sahabat, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.
Meski demikian, Tengku Abu Bakar memberikan catatan penting perihal mengetahui tentang salat. Ia menekankan bahwa pengetahuan tentang salat ini untuk menyempurnakan salat itu sendiri. Apabila tidak mengetahuia muratab (urutan) dan kaifiyah (tata cara) salat, maka salat itu tidak sempurna.
Di bagian akhir pembahasan salat ini, Tengku Abu Bakar menuliskan kalimat yang cukup filosofis, “adapun kenal sembahyang itu fatihah dan nafas sembahyang itu niat dan nyawa sembahyang itu takbiratul ihrah dan otak sembahyang itu doa dan tubuh sembahyang itu thuma’ninah dan tulang sembahyang itu rukuk dan kulit sembahyang itu sujud dan tangan sembahyang itu tahiyyat dan kaki sembahyang itu memberi salam”. (halaman 23)
Ini adalah bagian pertama tadarus Kitab Dua Puluh. Tulisan ini terpaksa dibagi menjadi dua bagian karena keterbasan ruang yang menjadi standar dalam penerbitan di media massa daring. Maka, bagian kedua akan membahas bagian lain dari kitab ini. Pembahasannya juga tidak kalah menarik dari bagian pertama ini.[]
Abd. Rahman Mawazi
Dosen STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Awarde LPDP di Universitas Brawijaya




