
Oleh: Akhlil Fikri Idham - Jurnalis Bersertifikat Tingkat Madya Dewan Pers
Di negeri yang warganya lebih percaya caption Instagram daripada laporan investigasi 12 halaman, media online hari ini hidup dalam situasi yang agak tragis. Ia diminta independen, objektif, kritis, berani, tajam, cepat, gratis, dan kalau bisa tanpa iklan. Pokoknya media diminta jadi malaikat, tapi disuruh makan angin.
- Media Online Itu Bukan Grup WhatsApp Berkedok Logo
- Advertorial Itu Apa? Jin Jahat atau Sumber Nafkah?
- Kenapa Media Butuh Advertorial?
- Relasi Itu Perlu, Asal Jangan Jadi Peliharaan
- Jurnalistik Masih Penting, Justru Saat Semua Orang Bisa Posting
- Media Terverifikasi Dewan Pers Itu Bukan Pajangan
- Integritas Wartawan: Barang Langka yang Tak Bisa Diiklankan
- Jadi, Advertorial Salah atau Tidak?
- Jangan Minta Pers Merdeka Kalau Nafkahnya Dipasung
Sementara pembaca, dengan santainya berkata, “Media sekarang isinya advertorial semua.”
Kalimat itu biasanya diucapkan sambil membaca berita gratis di ponsel, memakai Wi-Fi kantor, lalu menolak berlangganan media karena merasa cukup tercerahkan dari potongan video 27 detik di TikTok.
Beginilah nasib pers modern, dituntut suci oleh orang yang tak mau bayar.
Media Online Itu Bukan Grup WhatsApp Berkedok Logo
Mari kita mulai dari dasar dulu. Media online bukan akun anonim yang logonya pakai burung elang dan nama “Info Nusantara Terkini Real No Hoax”. Media online adalah lembaga pers yang bekerja memproduksi informasi, menyunting fakta, memverifikasi data, mewawancarai narasumber, dan mempertanggungjawabkan isi pemberitaan.
Idealnya begitu.
Ia punya redaksi, wartawan, editor, kode etik, bahkan kadang punya kursi plastik yang kakinya goyang di kantor sewaan ruko bukan dua lantai.
Media online bekerja dalam ritme yang kejam. Pagi meliput banjir, siang konferensi pers, sore liput politik, malam edit berita kriminal, tengah malam ditelepon narasumber minta judul diubah karena istrinya marah, pokoknya macam-macam.
Semua itu dilakukan agar publik mendapat informasi.
Masalahnya, publik ingin informasi gratis. Server tidak gratis. Gaji wartawan tidak gratis. Kopi sachet redaksi juga tidak gratis, wifi kantor, listrik dan banyak lagi uang yang harus dikucurkan tiap bulan.
Di titik inilah advertorial masuk ke panggung, kadang sebagai pahlawan, kadang sebagai kambing hitam.
Advertorial Itu Apa? Jin Jahat atau Sumber Nafkah?
Advertorial adalah gabungan dari advertisement dan editorial. Singkatnya, konten berbayar yang dikemas informatif. Bisa berupa profil perusahaan, kegiatan pemerintah, peluncuran produk, capaian program, atau promosi layanan.
Bahasa kasarnya, berita yang datang sambil membawa invoice.
Namun jangan buru-buru jijik. Tidak semua advertorial itu dosa turunan. Banyak media besar dunia hidup dari model serupa, branded content, sponsored content, native ads, partnership content. Namanya saja yang dibikin lebih elegan agar terdengar seperti lulusan luar negeri.
Di kampung kita, namanya tetap sederhana, advetorial.
Masalah muncul bukan karena advertorial ada, tapi karena advertorial disamarkan jadi berita murni tanpa penanda. Ini seperti menjual kopi campur jagung lalu mengaku single origin.
Kalau konten berbayar, tulislah berbayar. Kalau sponsor, bilang sponsor. Kalau kerja sama publikasi, tulis jelas. Publik tidak bodoh-bodoh amat. Mereka hanya sering malas membaca.
Kenapa Media Butuh Advertorial?
Karena idealisme tidak bisa digoreng.
Pendapatan media hari ini terjepit. Iklan lari ke platform raksasa. Uang promosi pindah ke media sosial. Seorang selebgram dengan kamera depan dan kalimat “guys racun banget” bisa dibayar lebih mahal daripada liputan satu minggu tim redaksi.
Lucu, memang.
Wartawan turun ke lapangan kehujanan, wawancara tiga narasumber, cek data dua jam, edit naskah satu jam. Sementara influencer tinggal senyum, pegang produk, bilang “jujur ini bagus banget”, lalu transferan masuk.
Maka perusahaan media harus realistis. Jika ingin bertahan, mereka mesti punya model bisnis, iklan, langganan, event, video monetisasi, jasa produksi konten, dan advertorial.
Tanpa itu, ruang redaksi akan berubah jadi museum idealisme, ideal lapar lebih tepatnya.
Relasi Itu Perlu, Asal Jangan Jadi Peliharaan
Perusahaan media juga harus membangun relasi dengan pemerintah, swasta, UMKM, komunitas, dan lembaga lain. Kata “relasi” sering disalahpahami seolah pasti berarti menjilat. Padahal tidak semua hubungan itu hina.
Media butuh jaringan untuk mendapatkan akses informasi dan peluang bisnis. Perusahaan juga butuh media untuk menyampaikan program, klarifikasi, kampanye, atau reputasi.
Yang berbahaya bukan relasi, melainkan ketergantungan.
Jika media tak berani mengkritik karena takut kontrak putus, itu bukan relasi, itu penitipan harga diri. Jika wartawan lebih rajin kirim proposal ketimbang cari fakta, itu bukan networking, itu mutasi profesi.
Relasi sehat adalah profesional, kerja sama jalan, kritik tetap hidup. Hari ini pasang advertorial, besok kalau ada masalah tetap diberitakan secara adil dan berbasis data.
Kalau tidak bisa begitu, mending buka EO saja.
Jurnalistik Masih Penting, Justru Saat Semua Orang Bisa Posting
Kita hidup di zaman semua orang bisa jadi “media”. Tinggal buka akun, tulis caption panjang, pasang musik dramatis, selesai. Tapi kemampuan memposting bukan berarti kemampuan berjurnalistik.
Jurnalistik punya metode, verifikasi, keberimbangan, konfirmasi, koreksi, tanggung jawab. Ia bukan sekadar “katanya”, “viral”, atau “netizen geram”.
Di tengah banjir konten, jurnalisme justru makin penting. Sebab informasi palsu menyebar lebih cepat daripada wartawan datang ke lokasi.
Karena itu media yang masih menjaga standar kerja layak dihargai. Kalau perlu dibayar. Jangan semua mau gratis, lalu marah ketika kualitas menurun.
Media Terverifikasi Dewan Pers Itu Bukan Pajangan
Dewan Pers sering dianggap sekadar stempel. Padahal verifikasi adalah upaya memastikan perusahaan pers punya struktur jelas, penanggung jawab jelas, alamat jelas, dan mekanisme kerja yang bisa dipertanggungjawabkan.
Minimal kalau ada masalah, orang tahu harus menuntut ke mana.
Bandingkan dengan akun anonim yang kantornya mungkin di balik selimut, redakturnya mungkin satu orang merangkap admin, desainer, buzzer, dan ahli geopolitik.
Media terverifikasi bukan berarti pasti sempurna. Tapi setidaknya ada pagar institusional. Ada standar yang diakui.
Integritas Wartawan: Barang Langka yang Tak Bisa Diiklankan
Pada akhirnya, sehebat apa pun model bisnis media, semuanya kembali ke integritas jurnalis.
Wartawan yang punya integritas tahu batas antara kerja sama bisnis perusahaan dan kerja-keja jurnalistik dan kemerdekaan redaksi. Ia tahu kapan menerima undangan, kapan menolak titipan, kapan menulis fakta meski bikin orang penting merengut.
Integritas itu sunyi. Tidak diposting di story. Tidak dibuat reels. Tidak dapat voucher.
Ia terlihat saat wartawan menolak amplop, saat editor menahan berita yang belum lengkap datanya, saat media berani meralat kesalahan.
Sebaliknya, tanpa integritas, media akan berubah jadi brosur berkedok portal berita.
Jadi, Advertorial Salah atau Tidak?
Jawaban jujurnya, tidak otomatis salah.
Yang salah adalah menyamarkan iklan sebagai kebenaran. Yang salah adalah menjual ruang redaksi tanpa etik. Yang salah adalah memakai kata jurnalistik untuk menutupi transaksi.
Advertorial bisa jadi alat bertahan hidup media. Bahkan kadang menyubsidi liputan-liputan penting yang tak menghasilkan uang. Namun ia harus ditempatkan jelas, transparan, dan dipisahkan dari keputusan redaksi.
Karena kalau semua halaman dijual, publik tak lagi membaca berita. Mereka hanya sedang melihat katalog dengan font formal.
Jangan Minta Pers Merdeka Kalau Nafkahnya Dipasung
Kita sering ingin media kritis, tajam, independen, dan profesional. Itu keinginan mulia. Tapi kemerdekaan pers juga butuh ekosistem ekonomi.
Jika semua iklan dibawa ke platform asing, semua pembaca maunya gratis, semua kerja sama dicurigai, dan semua wartawan dianggap pemeras, lalu kita berharap lahir jurnalisme berkualitas, itu seperti ingin panen padi sambil membakar sawah.
Media memang harus terus berbenah. Transparan soal advertorial, disiplin etik, menjaga jarak dengan kekuasaan, meningkatkan kualitas liputan.
Namun publik juga perlu jujur, berita yang baik butuh biaya.
Dan kadang, di balik berita advertorial yang sering dicibir itu, ada listrik kantor yang tetap menyala dan perlahan bunyi tit… tit… tit…, server yang tetap hidup, dan wartawan yang masih bisa berangkat meliput esok pagi.
Disclaimer:
Tulisan opini ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap atau kebijakan redaksi Kutipan secara keseluruhan. Kirim Tulisan:
Punya opini, cerita, atau gagasan menarik yang ingin dibagikan? Kutipan membuka ruang bagi kamu untuk berkarya. Kirimkan tulisan terbaikmu dan jadilah bagian dari suara publik! Hubungi kami melalui WhatsApp di 0811-7776-644 / email: kutipan.co@gmail.com




