
Kitab Dua Puluh karya Tengku Abu Bakar ini tidak hanya membahas tentang bidang tauhid ataupun teologi, namun juga memuat bagian lain, seperti tentang salat. Bisa jadi, bagia Tengku Abu Bakar, itu merupakan syariat yang akan menjadi pangkal awal menuju tingkat thariqat hingga nantinya mencapai ke ma’rifat. Puncak bahasan teologi, dalam perspektif ahlussunah, ialah pembahasan tentang ma’rifat ini.
Baca bagian pertama tulisan ini: Tadarus “Kitab Dua Puluh” Karya Tengku Abu Bakar (Bagaian 1)
Selain bagian bahasan tersebut, Tengku Abu Bakar juga membahas tentang hakikat diri dalam perspektif teologi, yakni berkaitan hubungan dengan keberadaan manusian. Tulisan itu dimulai dari halaman 23 pada dokumen digitalisasi yang ada, tepatnya berada paragraf kedua.
Tengku Abu Bakar memulai bahasan dengan tulisan, “Adapun jika ditanya orang kita, yang mana awal Muhammad, yang mana akhir Muhammad, yang mana dhohir Muhammad, yang mana bathin Muhammad, maka jawab awal Muhammad itu nur dan yaitu hati dan Muhammad itu rohani yaitu hawa dan dhahir Muhammad itu insan yaitu tubuh dan bathin Muhammad itu rabbani yaitu rahasia.”
Dalam bahasan ini, Tengku Abu Bakar menguatkan argument bahwa pada dasarnya manusia dalam pencarian tentang ketuhanan, tentang kenabian, dan tentang dirinya sendiri. Di sinilah pentingnya mengetahui perihal korelasi antara manusia dengan Allah dan Muhhammad sebagai utusan Allah. Jalan mengetahui Allah melalui ajaran Nabi Muhammad. Hal ini sudah cukup umum kalam kajian akidah.
Tengku Abu Bakar mengumpamakan hubungan Tuhan dan manusia bahwa Allah itu adalah hati pada manusia, sifat Allah itu ibarat hawa dan zat Allah itu rahasia pada diri manusia. Sebegitu dekatnya manusia dengan Tuhannya namun terkadang hal itu tidak rasakannya. Hal ini berkaitan dengan komponen penting dalam manausia, yakni roh.
Adapun pembagian roh, yakni nabati, jumadi, hewani, dan insani. “Maka tempat roh nabati di dalam hati, dan tempat roh jumadi itu di dalam buah hati, dan tempat roh hiwani itu dalam jantung dan tempat roh nafsani itu di dalam otak.” Keempat jenis roh ini menjadi bagian penting dalam membentuk diri dan watak manusia.
Usai membahas tentang roh, terdapat beberapa tulisan Tengku Abu Bakar untuk beberapa doa-doa. Dan dari terlihat juga tulisn yang membahas tentang salat berjamaah, namun sangat pendek sekali dan bahkan ada tiga baris tulisan yang dicoret menggunakan tinda kemerahan. Itu adalah bagian terakhir tulisan dalam kitab ini.
Bisa jadi, pembahasan itu belum tuntas atau hanyalah catatan tambahan di bagian lain dari buku ini. Sebagaimana disebutkan di awal, bahwa tulisan ini terdapat pada buku tulis, bukan karya yang sudah dicetak.
Sebuah Catatan
Pada koleksi di British Library dalam proyek Endangered Archives Programme (EAP), setidaknya terdapat empat manuskrip dengan judul Kitab Dua Puluh, pembaca bisa mengklik tautan berikut https://eap.bl.uk/search?query=kitab+dua+puluh. Satu diantaranya ialah karya Tengku Abu Bakar ini. Sedangkan satu lagi karya Usman bin Abdullah bin Yahya, tetapi penulis tidak dapat mengidentifikasi apakah beliau ini dari Riau Lingga ataukan dari daerah lain. Kitabnya dalam bentuk cetak dan kemungkinan sudah tersebar banyak di beberapa tempat.
Sedangkan dua naskah lagi tidak diketahui penulisnya. Dua kitab ini masih tulisan tangan. Satu kitab seperti merupakan salinan ataupun terjemahan dari kitab lain. Sedangkan satu lagi seperti kumpulan tulisan dari penulisnya karena di bagian awal justru memuat beberapa doa-doa, catatan tentang fikih, dan kemudian catatan tentang akidah.
Artinya, kala itu, pelajaran tentang tauhid, akidah, ilmu kalam ataupun teologi menjadi bagian penting di kalangan para ulama. Boleh jadi hal itu merupakan bagian penguatan pemahaman di kalangan masyarakat ketika itu. Dari beberapa catatan peneliti, di era akhir kerajaan Riau Lingga, ajaran taerakat juga sedang berkembang, khususnya tarekat Naqasabandiyah Ahmadiyah, sebagaimana yang diikuti oleh Yang Dipertuan Muda Raja Mumhammad Yusuf Al-Ahmadi. Laqob di akhir namanyanyalah sebagai penanda bahwa ia pengikut taerakat Naqsabandiyah Ahamdiyah.
Dengan banyaknya karya tentang bidang ini yang tersebar di Riau Lingga dan bahkan juga menjadi tulisan dari kalangan cendekianya, hal ini mengindikasikan bahwa perkembangan keilmuan mengiringi perkembangan tamadun melayu. Karya intelektual, baik berupa karya utuh ataupun catatan dalam buku, adalah bagian peninggalan penting bagi tamadun melayu dan khazanah intelektualnya.[]
Abd. Rahman Mawazi
Dosen STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Awarde LPDP di Universitas Brawijaya




