
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI melihat potensi besar Pulau Penyengat sebagai kawasan ekonomi oranye berbasis budaya dan sejarah Melayu yang mampu mendorong kesejahteraan masyarakat lokal.
Hal tersebut disampaikan Direktur Perencanaan Peningkatan Produktivitas dan Pembangunan Tematik Bappenas RI, Uke Mohammad Hussein, saat melakukan kunjungan lapangan ke Pulau Penyengat, Kamis (7/5/2026).
Dalam kunjungannya, Uke menegaskan bahwa Bappenas saat ini memiliki tiga fokus utama pengembangan tematik nasional, yakni ekonomi hijau, ekonomi biru, dan ekonomi oranye yang berkaitan erat dengan sektor budaya serta ekonomi kreatif.
“Salah satu tugas pokok kami adalah mengembangkan ekonomi oranye itu,” ujar Uke.
Menurutnya, Pulau Penyengat memiliki kekuatan besar untuk dikembangkan melalui sektor pariwisata budaya dan ekonomi kreatif berbasis warisan Melayu.
Ia bahkan mengaku kunjungan kali ini menjadi kunjungan keempatnya ke Pulau Penyengat dan melihat banyak perubahan positif dibanding kunjungan sebelumnya.
“Alhamdulillah sudah keempat kali saya ke sini, jauh lebih baik dari pertama kunjungan saya ke Penyengat,” katanya.
Uke menjelaskan, pengembangan wisata budaya tidak cukup hanya menampilkan situs sejarah semata. Menurutnya, wisata budaya harus diperkuat dengan storytelling atau narasi sejarah yang mampu memberikan pengalaman mendalam bagi wisatawan.
“Tour yang dilakukan bukan sekadar melihat situs sejarah, tetapi ada storytelling dan pewarisan nilai kepada generasi penerus. Budaya itu bisa dimonetisasi melalui kegiatan tourism,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong setiap situs budaya di Pulau Penyengat dilengkapi informasi sejarah, narasi budaya, serta paket wisata yang terstruktur agar pengunjung mendapatkan pengalaman wisata yang lebih utuh.
“Kalau mau ke mana pun situsnya, informasi sejarah dan storytelling-nya sudah siap. Tadi masih ada beberapa situs yang belum punya storytelling,” lanjutnya.
Selain budaya dan sejarah Melayu, Uke juga menilai kuliner khas Pulau Penyengat memiliki peluang besar untuk diperkenalkan lebih luas sebagai identitas daerah yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat.
“Bukan hanya budaya dan sejarah, tetapi juga kuliner khas yang bisa diangkat dan dipasarkan sehingga orang tahu ciri khas Penyengat,” ungkapnya.
Ia berharap adanya sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, dan Pemerintah Kota Tanjungpinang untuk memperkuat pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya di Pulau Penyengat.
“Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya warga lokal,” ucapnya.
Selama berada di Pulau Penyengat, rombongan Bappenas meninjau sejumlah situs budaya dan sejarah Melayu, di antaranya Makam Raja Hamidah dan Raja Ali Haji, Makam Raja Haji Fisabilillah, Rumah Hakim Raja Haji Abdullah, Rumah Kreatif Dekranasda, Balai Adat, hingga Masjid Raya Sultan Riau Penyengat.
Rombongan juga mengikuti berbagai pengalaman budaya Melayu seperti makan berhidang dan mengenakan pakaian adat Melayu.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Muhammad Nazri, menyambut baik kunjungan tersebut sebagai langkah strategis memperkuat Pulau Penyengat sebagai kawasan budaya dan ekonomi kreatif unggulan di Kepulauan Riau.
“Pulau Penyengat bukan hanya warisan sejarah Melayu, tetapi juga memiliki potensi besar menjadi kekuatan ekonomi kreatif berbasis budaya di Kepulauan Riau,” kata Nazri.***
Laporan: Toni
Editor: Fikri




