
Penulis: Muhammad Ishak | Tokoh Masyarakat Lingga
Ada rasa bangga yang tak bisa disembunyikan ketika melihat Kabupaten Lingga hari ini. Daerah yang dulu lebih sering disebut dalam catatan sejarah, kini mulai tampil sebagai destinasi yang dilirik. Kita patut bersyukur kerja keras Pemerintah Kabupaten Lingga bersama masyarakat perlahan mulai menampakkan hasil.
Apa yang dulu “terendam” kini diangkat ke permukaan, yang semak mulai dilapangkan, dan yang berserak mulai disatukan dalam satu arah, membangun pariwisata berbasis budaya Melayu.
Sejak berdiri pada 2003, Lingga memang tidak pernah kekurangan alasan untuk dibanggakan. Ia adalah simpul penting dari warisan besar Kerajaan Melayu Lingga-Riau, Johor, hingga Pahang. Namun, seperti banyak daerah lain, kekayaan sejarah dan budaya tidak otomatis menjelma menjadi kesejahteraan. Dibutuhkan ikhtiar panjang, yang untungnya kini mulai terlihat jalannya.
Dua tahun terakhir, geliat pariwisata Lingga menunjukkan tren yang menggembirakan. Wisatawan mulai berdatangan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Menariknya, promosi ini bukan hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari anak-anak muda Lingga sendiri, para konten kreator yang tanpa lelah memperkenalkan kampung halamannya ke dunia digital. Mereka bekerja tanpa podium, tanpa seremoni, tetapi dampaknya nyata.
Namun, di balik optimisme itu, kita tidak boleh terjebak dalam euforia. Sebab pariwisata bukan hanya soal keindahan yang dipamerkan, tetapi juga kenyamanan yang dirasakan. Di sinilah kita perlu sedikit jujur bahkan jika kejujuran itu terasa satir.
Lingga hari ini seperti rumah indah yang pintunya masih sulit dibuka. Akses menuju daerah ini masih menjadi persoalan paling mendasar. Wisatawan dari Malaysia dan Singapura harus menempuh perjalanan panjang melalui Batam, lalu melanjutkan dengan kapal reguler hingga berjam-jam lamanya. Total perjalanan bisa mencapai hampir lima jam untuk sampai ke Daik. Ini bukan sekadar soal waktu, tetapi juga soal pengalaman.
Mari kita bayangkan, wisatawan modern mencari kemudahan, bukan ujian kesabaran. Ketika pilihan destinasi lain menawarkan akses lebih cepat dan nyaman, Lingga harus bersaing bukan hanya dengan keindahan alam, tetapi juga dengan efisiensi perjalanan.
Di sinilah pentingnya berpikir lebih strategis. Alternatif akses seperti jalur Cakang yang hanya memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam menuju Sei Tenam patut dipertimbangkan secara serius. Bahkan untuk jangka panjang, pembangunan bandar udara di Pulau Lingga bukan lagi wacana yang terlalu jauh. Rencana itu sudah ada dalam RTRW, tinggal keberanian untuk mengeksekusinya.
Satirnya, kita sering terlalu sibuk mempromosikan “surga” tanpa memastikan jalan menuju ke sana layak dilalui. Kita mengundang tamu, tetapi lupa memperbaiki halaman rumah.
Kerja sama lintas daerah juga menjadi kunci yang tidak bisa ditawar. Batam sebagai pintu masuk utama wisatawan mancanegara memiliki peran strategis. Namun kerja sama tidak cukup hanya dalam bentuk seremonial atau nota kesepahaman.
Pelaku pariwisata Batam perlu diajak langsung ke Lingga, melihat kondisi nyata dari fasilitas, infrastruktur, hingga kesiapan masyarakat. Dari sana, solusi yang lebih konkret bisa dirumuskan bersama.
Kita juga perlu membuka ruang evaluasi yang jujur dan berkelanjutan. Koordinasi antara Pemkab Lingga, Pemerintah Provinsi Kepri, hingga pelaku usaha pariwisata harus lebih intens dan tidak sekadar reaktif. Sebab tantangan ke depan tidak semakin ringan justru semakin kompleks.
Padahal, jika berbicara potensi, Lingga nyaris tidak memiliki alasan untuk kalah. Dari Gunung Daik bercabang tiga yang ikonik, Tugu Khatulistiwa, sumber air panas, hingga potensi diving dan fishing yang belum sepenuhnya tergarap. Belum lagi desa wisata, kerajinan tudung manto, tenunan songket, kehidupan unik suku laut, hingga panorama pulau-pulau yang masih alami.
Tidak berlebihan jika Lingga disebut sebagai “tanah surga yang tercecer ke bumi” atau “mutiara yang terpendam di Kepri”. Namun mutiara tetaplah batu biasa jika tidak diasah dan dipamerkan dengan cara yang tepat.
Di titik ini, yang dibutuhkan bukan lagi sekadar rencana, tetapi keberanian untuk konsisten. Komitmen untuk fokus. Kesediaan untuk bekerja sama. Dan yang tak kalah penting, kesadaran bahwa pembangunan pariwisata bukan proyek jangka pendek, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan.
Optimisme tentu harus tetap dijaga. Bahkan, saya meyakini dengan sepenuh keyakinan, haqqul yaqin, bahwa jika potensi luar biasa yang dimiliki Lingga ini dikelola dengan baik, maka manfaatnya akan kembali kepada masyarakat. Bukan hanya dalam bentuk angka kunjungan wisata, tetapi juga dalam peningkatan kesejahteraan dan kebanggaan daerah.
Lingga tidak kekurangan keindahan. Yang kita butuhkan adalah mempercepat langkah agar keindahan itu bisa lebih mudah dijangkau.
Disclaimer:
Tulisan opini ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap atau kebijakan redaksi Kutipan secara keseluruhan. Kirim Tulisan:
Punya opini, cerita, atau gagasan menarik yang ingin dibagikan? Kutipan membuka ruang bagi kamu untuk berkarya. Kirimkan tulisan terbaikmu dan jadilah bagian dari suara publik! Hubungi kami melalui WhatsApp di 0811-7776-644 / email: kutipan.co@gmail.com




