
Penulis: Akhlil Fikri Idham | Jurnalis Kebanyakan Ngopi yang Kadang Lebih Banyak Mengeluh daripada Bekerja
Ada satu momen yang bikin saya agak malu sama diri sendiri. Bukan karena ketahuan utang di warung kopi langganan, tapi karena ketemu seseorang yang diam-diam menampar logika hidup saya tanpa perlu marah, tanpa perlu ceramah.
Namanya Pak Suhaidi.
Saya bertemu beliau di Desa Sungai Raya, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga pada Minggu (27/4/2026). Awalnya, saya ke sana bukan untuk mencari inspirasi hidup. Saya cuma lagi menjalankan tugas, memastikan apakah benar dapur MBG itu membeli sayur dari petani lokal, atau sekadar gimmick biar kelihatan merakyat di mata media dan banyak orang yang skeptis sama MBG (Menu Makan Gratis).
Jujur saja, saya datang dengan sedikit prasangka. Pengurus dapur MBG yang menemani saya saat itu saya anggap mungkin sedang memainkan “drama petani lokal” biar headline-nya enak dibaca, biar terlihat pro rakyat.
Ternyata saya salah. Dan jarang-jarang saya mengakui kesalahan dengan ikhlas seperti ini.
Kami tiba di sebuah pondok panggung sederhana. Dindingnya kayu, tidak besar, tidak mewah, tapi cukup untuk menyimpan sesuatu yakni ketekunan yang lebih mahal dari rumah beton bertingkat yang setiap kamarnya memiliki pendingin ruangan (AC).
Di situlah Pak Suhaidi tinggal.
Suhaidi, begitu beliau memperkenalkan diri ketika saya tanya namanya. Tidak ada embel-embel panjang, tidak ada CV, tidak ada LinkedIn. Umurnya? Saya tidak sempat bertanya, tapi kalau disuruh menebak, mungkin di antara 50 sampai 60 tahun.
Usia yang di banyak tempat biasanya sudah mulai rajin duduk di warung kopi, membahas politik, sambil sesekali menyalahkan pemerintah karena hidup terasa berat.
Tapi Pak Suhaidi beda.
Saat saya datang, beliau baru saja mencangkul lahan baru di dekat pondoknya. Dengan santai, ia menunjuk tanah yang masih basah itu.
“Ini nanti mau tanam kacang panjang,” katanya.
Saya mengangguk. Dalam hati saya berpikir, kacang panjang ini mungkin bukan cuma tanaman, tapi juga simbol. Simbol bahwa harapan itu bisa ditanam, asal mau berkeringat.
Pak Suhaidi berasal dari Medan. Sudah sekitar enam tahun ia menetap di Lingga. Sendiri.
Ketika saya tanya soal keluarga, ia menjawab singkat, tidak ada. Saya tidak lanjut bertanya. Ada hal-hal yang memang lebih baik tidak diusik biarlah tetap jadi ruang sunyi yang hanya ia dan Tuhan yang tahu.
Yang menarik, ia tidak datang ke Lingga membawa gelar, jabatan, atau janji-janji kosong. Ia datang dengan satu hal yang sering diremehkan, kemampuan bertani.
Dan dari situlah hidupnya berjalan.
Di sekitar pondoknya, tumbuh berbagai tanaman, lebih tepatnya ia tanam dengan tangannya. Jeruk nipis, jagung, kacang panjang, pisang, timun, kunyit, pepaya dan entah apa lagi yang saya tidak kenali, maklum, saya lebih familiar dengan menu kafe daripada isi kebun.
Semua itu bukan sekadar tanaman. Itu adalah bukti bahwa hidup bisa tetap jalan tanpa harus menunggu lowongan kerja.
Saya datang untuk mengecek kebenaran soal dapur MBG. Dan ya, ternyata benar. Tidak hanya Pak Suhaidi, ada lebih dari 2 petani lokal yang menjual hasil panennya ke dapur MBG tersebut, ada 2 petani lain di wilayah Desa Batu Kacang, Kecamatan Singkep juga jadi pemasok sayur mayur di dapur MBG .
Sayur-sayur seperti kacang panjang, timun, jagung, sawi, dan buncis dibeli langsung dari kebun petani-petani tadi.
Pak Suhaidi bahkan terlihat bersyukur.
“Alhamdulillah, jadi nggak perlu bawa ke pasar,” katanya.
Kalimat sederhana, tapi kalau dipikir-pikir, itu adalah kemewahan yang tidak semua orang punya, hasil kerja keras yang langsung dihargai tanpa harus menempuh jarak jauh dan mengeluarkan biaya tambahan minyak motor untuk mengantakan hasil panennya.
Di titik ini, saya mulai merasa tidak nyaman. Bukan karena panas, tapi karena sadar ada yang salah dengan cara berpikir saya, dan mungkin banyak dari kita.
Selama ini, kita sering terjebak pada satu narasi, hidup harus menunggu pekerjaan.
Kalau tidak ada lowongan, ya sudah, kita mengeluh. Kita menyalahkan keadaan, pemerintah, ekonomi global, bahkan kadang cuaca.
Sementara Pak Suhaidi?
Ia tidak sibuk mencari pekerjaan. Ia sibuk menciptakan penghasilan.
Bedanya tipis, tapi dampaknya jauh.
Ia bahkan sedang memperluas lahannya. Tanah itu, katanya kepada saya, ia dapat dengan cara kredit. Artinya, setiap bulan ada cicilan yang harus dibayar.
Tapi alih-alih panik, ia malah mencangkul.
Saya pulang dari sana dengan perasaan campur aduk. Antara kagum dan malu.
Kagum karena di usia yang tidak lagi muda, Pak Suhaidi masih mau berkeringat, jeli melihat potensi, masih mau belajar, masih mau berusaha.
Malu karena saya, dan mungkin banyak dari kita yang usianya lebih muda, lebih sehat, tapi lebih banyak mengeluh daripada bergerak. Lebih banyak menghabiskan waktu di keadi kopi dan mengeluh.
Pak Suhaidi tidak banyak bicara soal teori hidup. Ia tidak mengutip motivator. Ia tidak membuat konten inspirasi.
Ia hanya mencangkul.
Dan entah kenapa, itu terasa lebih jujur dari ribuan kata motivasi di internet.
Mungkin masalah kita bukan tidak punya peluang. Mungkin kita hanya terlalu sibuk menunggu peluang datang dalam bentuk yang nyaman.
Padahal, di sebuah pondok sederhana di Sungai Raya, Singkep Barat, ada seorang lelaki yang membuktikan bahwa hidup tidak harus menunggu, hidup bisa dikerjakan.
Sementara kita?
Masih sibuk di kedai kopi, membahas betapa sulitnya hidup, sambil menunggu keajaiban yang entah datang kapan, lalu melampiaskan menyalahkan pemerintah.
Disclaimer: Tulisan ini merupakan curhatan penulis bukan fiksi, ini kisah nyata Kirim Tulisan: Punya opini, cerita, atau gagasan menarik yang ingin dibagikan? Kutipan membuka ruang bagi kamu untuk berkarya. Kirimkan tulisan terbaikmu dan jadilah bagian dari suara publik! Hubungi kami melalui WhatsApp di 0811-7776-644 / email: kutipan.co@gmail.com




