
KUTIPAN – Perjalanan panjang Kabupaten Lingga dalam membangun fondasi pariwisata dan pelestarian budaya mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Berkat kerja keras dan gotong royong antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lingga dan masyarakat mulai dari mengangkat “batang terendam”, melapangkan lahan semak, hingga menyatukan berbagai elemen yang berserak kini Lingga memiliki kajian, perencanaan, dan peraturan yang kuat sebagai pondasi pelestarian kebudayaan.
Sejak pembentukan Kabupaten Lingga pada tahun 2003, upaya ini telah berbuah manis. Dalam dua tahun terakhir, tren kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara menunjukkan peningkatan yang cukup baik. Panorama alam yang memukau serta khasanah budaya Melayu warisan Kerajaan Melayu Lingga-Riau, Johor, dan Pahang, kini mulai dinikmati oleh para pelancong.
Muhammad Ishak, salah satu tokoh yang mengamati perkembangan ini, menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran strategis generasi muda.
“Ini juga tidak terlepas dari kerja cerdas para pemuda-pemudi ‘hebat’ Lingga, seperti Rahul, Tok Nuzu, Taufik, Puji, dan lainnya. Mereka tidak henti-hentinya mempromosikan potensi wisata daerahnya lewat konten-kreator yang sangat menarik,” ujar Ishak di Daik Lingga. Kamis (7/5/2026).
Meski tren positif terlihat, Ishak menekankan bahwa evaluasi dan koordinasi harus terus digencarkan. Ia mendesak Pemkab Lingga untuk segera menggelar pertemuan rutin dengan berbagai pelaku pariwisata, termasuk Dinas Pariwisata dan Kadin Provinsi Kepri, serta mitra dari Batam, Bintan, dan Tanjungpinang.
Mengingat pintu masuk utama wisatawan mancanegara ke Lingga saat ini masih melalui Batam, Ishak menyebut kerjasama dengan Pemkot Batam dan pelaku usaha di sana sebagai hal yang sangat urgen.
“Harus lebih proaktif dan ajak mereka ke Lingga. Supaya mereka dapat melihat langsung berbagai kelemahan fasilitas pariwisata, infrastruktur, respons masyarakat, akses, dan atraksi yang masih perlu menjadi perhatian Pemkab Lingga. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan di antara permasalahan tersebut ada yang dapat dipecahkan bersama atau oleh mereka,” tegas Ishak.

Salah satu hambatan terbesar yang diidentifikasi adalah masalah aksesibilitas. Saat ini, wisatawan dari Malaysia dan Singapura yang menuju Daik Lingga harus menempuh perjalanan sekitar 4 jam via kapal reguler dari Pelabuhan Punggur ke Sei Tenam, ditambah hampir 5 jam total hingga tiba di Daik.
Untuk memendek rentang waktu tersebut, Ishak mengusulkan alternatif jalur baru. “Bukan hal yang mustahil bila ke depan mencari alternatif lain, misalnya melalui Cakang via kapal khusus. Jalur ini hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam ke Pelabuhan Sei Tenam, serta 35 menit ke Pulau Benan,” jelasnya.
Menjangkau visi jangka panjang, Ishak kembali menyoroti rencana pembangunan Bandar Udara khusus di Pulau Lingga yang sebenarnya sudah tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lingga. Ia juga menghimbau Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk memberikan perhatian lebih besar, mengingat posisi Lingga sebagai “Pusat Bunda Tanah Melayu”.
Lingga dinilai memiliki paket wisata yang sangat lengkap. Selain wisata sejarah budaya Melayu dan ikon Gunung Daik bercabang tiga, daerah ini menawarkan Tugu Khatulistiwa, pemandian air panas, aktivitas fishing dan diving, desa wisata, air terjun, kebun salak, hingga kerajinan tangan seperti Tudung Manto dan tenunan songket. Keunikan kehidupan Suku Laut, aktivitas berburu babi hutan, hingga tracking di Gunung Daik menjadi daya tarik tersendiri.
“Tidak salah kalau ada yang mengatakan Lingga itu ibarat segumpal ‘tanah surga’ yang dicampakkan ke bumi, atau ‘mutiara yang terpendam di Kepri’. Tinggal dipeluk keberanian, konsistensi, komitmen, fokus, kerjasama, dan kerja yang berkelanjutan,” tambah Ishak penuh semangat.
Ishak mengakhiri pernyataannya dengan optimisme tinggi. “Saya sangat optimis dan hakkul yakin, jika potensi wisata luar biasa yang tidak dimiliki daerah lain ini dikelola dengan baik, ia akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan daerah. Ini adalah anugerah besar dari Allah SWT. Insya Allah,” tutup Ishak.
Dengan fondasi yang semakin kokoh dan dukungan berbagai pihak, harapan agar “mutiara terpendam” Kepulauan Riau ini bersinar terang di peta pariwisata dunia kian terbuka lebar.
Editor: Dito




