
Penulis: Akhlil Fiki | Pengamat Sandal Jepit dan Pengoleksi Cerita Receh
Siang itu, di sebuah masjid di pulau yang namanya bahkan tak sempat saya ingat, saya melakukan satu tindakan kecil yang kalau dipikir-pikir sekarang cukup konyol dan sedikit kriminal dalam skala receh, mencoba sepatu orang lain diam-diam.
Sepatu itu milik Muhammad Nizar. Ya, Nizar yang sekarang jadi Bupati Lingga. Waktu itu, ia belum dilantik, masih sibuk keliling kampung bersama pasangannya, Novrizal, menjajakan sesuatu yang orang-orang kota suka sebut sebagai “visi dan misi”, tapi bagi warga kampung, itu lebih mirip janji yang dibungkus harapan.
Sepatunya hitam. Hitam doff. Tidak mengkilat, tidak juga norak seperti sepatu pesta yang dipakai ke kondangan tapi bunyinya “tek-tek-tek” minta diperhatikan. Ini jenis sepatu yang kalau dipakai, orang tidak akan langsung menoleh. Tapi entah kenapa, saya justru menoleh.
Mungkin karena dia sering memakainya.
Saya melihat sepatu itu berulang kali di beberapa titik kampanye. Ia seperti ikut berkeliling, ikut mendengar, ikut menapaki jalan-jalan kecil yang kadang lebih mirip bekas luka daripada akses publik. Sepatu itu tampak kokoh, seperti tahu bahwa yang dipijaknya bukan sekadar tanah, tapi juga harapan yang sering kali lebih berat dari badan manusia.
Dan seperti rasa penasaran yang tidak tahu tempat, saya mencobanya.
Diam-diam.
Cepat-cepat.
Dan benar saja, kebesaran.
Saya berdiri sebentar, merasakan bagaimana rasanya berada di dalam sepatu itu. Lalu buru-buru melepasnya, seperti orang yang sadar sedang berada di posisi yang bukan miliknya.
Jujur, saya tidak terlalu suka modelnya. Kalau disuruh milih, mungkin saya akan ambil yang lebih ringan, lebih trendi, atau setidaknya yang tidak membuat kaki saya terlihat seperti sedang memikul beban negara. Tapi warna hitam solidnya itu entah kenapa punya daya tarik yang tidak bisa saya jelaskan.
Barangkali karena ia jujur.
Tidak berpura-pura jadi putih.
Waktu berjalan. Kampanye selesai. Pemilihan usai. Dan seperti cerita-cerita yang sering kita dengar, Nizar dan Novrizal akhirnya terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Lingga. Dilantik oleh Prabowo Subianto di Jakarta pada Februari 2025.
Saya juga ikut ke Jakarta waktu itu. Tapi bukan karena idealisme atau semangat demokrasi yang membuncah. Saya cuma ingin naik pesawat dan ke Jakarta. Sesederhana itu. Kadang, hidup ini memang tidak perlu dibuat terlalu heroik.
Di Jakarta, saya sempat bertemu mereka. Tidak lama. Hanya cukup untuk mengucapkan selamat, berjabat tangan, dan berfoto. Mereka memakai baju dinas putih warna yang saya suka namun menurut saya kurang pas mengenakan warna putih untuk saya yang kumal ini.
Setelah itu, saya kembali ke kehidupan biasa. Menulis. Mengamati. Kadang mengeluh, lebih sering menertawakan keadaan yang sebenarnya tidak lucu-lucu amat.
Sampai suatu hari, saya melihat sebuah foto Muhammad Nizar di media sosial.
Dan di situ, ada sepatu itu lagi.
Sepatu hitam yang pernah saya coba diam-diam.
Saya zoom fotonya. Fokus ke bawah. Ke kaki. Ke sepatu.
Dan ya, saya yakin itu sepatu yang sama.
Masih dipakai.
Masih terlihat kokoh.
Masih setia.
Di tengah dunia yang sekarang lebih cepat ganti haluan daripada sinetron kejar tayang, melihat sesuatu yang tetap dipakai dalam waktu lama itu terasa… aneh. Sekaligus menenangkan.
Saya jadi berpikir, mungkin yang patut diapresiasi bukan cuma orangnya, tapi juga cara dia merawat sesuatu.
Karena saat ini bagi kebanyakan orang merawat itu tidak keren.
Yang keren itu beli baru.
Ganti.
Upgrade.
Move on.
Padahal, tidak semua yang lama itu usang. Tidak semua yang bertahan itu ketinggalan zaman.
Sepatu itu, misalnya.
Ia tetap dipakai. Tetap menemani. Tetap melengkapi langkah-langkah yang mungkin sekarang lebih berat dari sekadar kampanye. Karena setelah janji diucapkan, yang datang bukan lagi tepuk tangan, tapi tuntutan.
Dan di situlah saya melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar sepatu.
Saya melihat komitmen.
Kita hidup di zaman di mana kesetiaan sering kalah sama rasa menunggu janji yang belum terealisasi. Di mana komitmen sering kalah sama opsi lain yang terlihat lebih menarik. Bahkan dalam hal-hal kecil seperti sepatu, kita lebih mudah mengganti daripada merawat dan saling menopang berat beban yang dipikul.
Tapi sepatu itu tidak.
Dan, setidaknya dari yang saya lihat, Nizar juga tidak.
Ia masih berjalan. Masih berusaha. Masih memperjuangkan apa yang dulu ia tawarkan dari kampung ke kampung bersama Novrizal. Tentu saja, tidak semua hal langsung jadi. Ini bukan sulap, yang dengan tiba-tiba berubah sesuai keinginan.
Butuh kesabaran.
Butuh kepercayaan.
Butuh kesediaan untuk tetap melangkah bersama, bahkan ketika jalannya tidak selalu rata.
Saya jadi teringat momen ketika sepatu itu kebesaran di kaki saya.
Mungkin, memang tidak semua hal cocok untuk kita.
Tidak semua peran bisa kita isi.
Dan tidak semua tanggung jawab bisa kita coba-coba, lalu dilepas begitu saja.
Ada hal-hal yang harus dijalani sepenuhnya.
Dipakai.
Dirawat.
Dijaga.
Seperti sepatu itu.
Seperti janji itu.
Dan mungkin, di situlah plot twist dari cerita receh ini.
Bahwa kesetiaan itu tidak selalu tentang orang dengan orang. Kadang, ia hadir dalam bentuk paling sederhana, antara seseorang dan sepasang sepatu hitam yang terus ia pakai, ke mana pun ia melangkah, untuk mewujudkan yang pernah keluar dari mulut Nizar tinggal “selangkah lagi”. Nizar dan sepatu itu terus saling menopang menapaki langkah-langkah mewujudkan selangkah lagi.
Jika suatu saat selangkah lagi itu tidak kunjung tiba, setidaknya saya tau Nizar dan sepatu itu pernah berusaha dengan gigih menepati janji itu.
Karena “selangkah lagi” itu sering kali bukan soal jarak, tapi soal daya tahan.
Soal seberapa lama kita mau terus berjalan, meski hasilnya belum terlihat.
Soal seberapa kuat kita tetap percaya, meski yang lain mulai ragu.
Dan saya melihat itu, atau setidaknya ingin percaya melihat itu, pada Nizar dan sepatu hitamnya.
Mereka berdua seperti punya kesepakatan diam-diam, tetap melangkah.
Tetap menopang.
Tetap menapaki jalan yang mungkin tidak selalu rata.
Menuju sesuatu yang katanya tinggal selangkah lagi.
Tapi kita semua tahu, hidup tidak selalu sebaik narasi kampanye.
Kadang, “selangkah lagi” itu molor.
Kadang, ia menjauh setiap kali kita merasa sudah dekat.
Kadang, ia berubah jadi janji yang menggantung, tidak jatuh, tapi juga tidak sampai.
Dan di situ, satirnya terasa.
Karena kita hidup di negeri yang penuh dengan “hampir.”
Hampir jadi.
Hampir selesai.
Hampir terwujud.
Namun, di antara semua kemungkinan itu, saya menyimpan satu pikiran yang entah kenapa terasa cukup adil.
Jika suatu saat “selangkah lagi” itu tidak kunjung tiba, setidaknya saya tahu satu hal.
Bahwa Nizar dan sepatu hitam itu pernah berusaha.
Dengan gigih.
Dengan langkah yang mungkin tidak sempurna, tapi tetap dijalani.
Dan di dunia yang sering lebih sibuk berjanji daripada berproses, usaha yang terus berjalan itu meski sederhana tetap layak dihargai.
Saya pernah mencoba sepatu itu.
Dan sekarang saya tahu, bukan cuma ukurannya yang kebesaran.
Tapi juga tanggung jawab yang ikut menempel di setiap langkahnya.
Disclaimer:
Tulisan opini ini merupakan curhatan penulis bisa fiksi ataupun kisah nyata Kirim Tulisan
Punya opini, cerita, atau gagasan menarik yang ingin dibagikan? Kutipan membuka ruang bagi kamu untuk berkarya. Kirimkan tulisan terbaikmu dan jadilah bagian dari suara publik! Hubungi kami melalui WhatsApp di 0811-7776-644 / email: kutipan.co@gmail.com




