
Penulis: Kiky Obeng Karatan | Pengamat Pintu Rumah, Penyeduh Kopi Sachet, dan Ahli Menunda Pekerjaan Ringan
Di banyak rumah sederhana, kerusakan sering kali diperlakukan seperti saudara jauh, diakui keberadaannya, tapi dihindari untuk diurus.
Atap bocor ditadah ember. Dinding retak ditutup kalender bergambar caleg partai. Kursi patah disangga balok kayu, lalu disebut “masih kokoh”. Kran menetes dibiarkan, toh suaranya bisa jadi musik pengantar tidur.
Dan pintu lapuk?
Ah, itu urusan nanti.
Begitulah nasib pintu rumah emak.
Pintu itu sudah renta. Kayunya keropos, bagian bawahnya dimakan usia dan mungkin juga rayap yang bekerja lebih disiplin daripada sebagian aparatur. Kalau dibuka, bunyinya lirih seperti keluhan orang tua yang tak mau merepotkan anak. Kalau ditutup, bunyinya keras seperti hati anak yang pura-pura tak dengar.
Engselnya ajaib. Masih bertahan walau tiap hari disiksa buka-tutup. Engsel itu seperti emak sendiri, tua, mulai rapuh, tapi tetap berdiri karena merasa belum waktunya rebah.
Sudah lama emak minta pintu itu diganti.
Kalau tak salah dua tahun lalu. Atau tiga. Di keluarga Indonesia, ukuran waktu memang sering kabur. “Kemarin” bisa berarti minggu lalu. “Baru tadi” bisa maksudnya dua bulan lalu. Dan “nanti” bisa berarti sampai lupa.
“Nanti ya, Mak.”
Kalimat yang terdengar sopan, padahal isinya penundaan berkedok kasih sayang.
“Nanti” adalah kata favorit banyak anak yang sudah dewasa. Kata serbaguna. Bisa dipakai untuk menjawab permintaan emak, ajakan olahraga, niat menabung, sampai janji memperbaiki diri yang sudah rusak sejak lama.
Dan “nanti” itu panjang sekali.
Lebih panjang dari antrean bansos.
Lebih panjang dari janji politikus saat kampanye.
Lebih panjang dari resolusi tahun baru yang mati di minggu kedua Januari.
Sampai akhirnya, pintu itu benar-benar diganti.
Bukan pintu baru.
Pintu bekas.
Tapi jangan remehkan status “bekas”. Di negeri ini, barang bekas dari luar negeri diyakini lebih kokoh dan tangguh daripada barang baru buatan sendiri. Ada kasta aneh yang tak tertulis di undang-undang, kalau seken luar negeri, nilainya naik. Seolah-olah bekas impor tetap lebih bagus daripada baru lokal.
Untung emak bukan tipe manusia yang hidup demi gengsi, yang dia mau hanya diganti, agar terlihat sepeti rumah orang-orang kebanyakan.
Bagi emak, pintu bekas pun tak masalah. Asal tak lagi lapuk. Asal tak perlu mendorong pakai bahu tiap sore. Asal kalau malam bisa dikunci tanpa drama seperti sinetron jam prime time.
Karena generasi emak paham satu hal penting yang mulai hilang dari generasi sekarang, fungsi jauh lebih penting daripada pencitraan.
Yang menarik sebenarnya bukan soal pintunya.
Yang menarik adalah, kenapa harus menunggu bertahun-tahun?
Bukan karena pintu mahal rasanya. Dalam rentang waktu dua atau tiga tahun itu, anak-anak biasanya masih bisa beli banyak hal lain.
Ganti ponsel karena kamera lama “kurang estetik”.
Tambah cicilan motor biar gengsi parkir naik.
Ngopi lucu dengan nama menu sepanjang doa qunut.
Langganan hiburan digital yang setengah isinya tak sempat ditonton.
Beli mainan anak.
Traktir teman saat gajian supaya terlihat dermawan sebelum tanggal tua kembali miskin.
Pintu emak kalah prioritas dari notifikasi promo.
Tapi ini bukan cerita tentang anak durhaka.
Terlalu malas kalau semua persoalan keluarga langsung dicap begitu. Hidup orang dewasa memang ruwet. Apalagi anak sulung. Setelah menikah, dia punya keluarga sendiri. Ada istri, anak, susu, uang sekolah, beras, gas, listrik, cicilan, dan kelelahan yang menumpuk tiap malam seperti cucian di pojok kamar mandi.
Kepala rumah tangga sering hidup dalam mode bertahan.
Bangun pagi cari uang.
Pulang malam cari sisa tenaga.
Besok ulang lagi.
Di tengah kebisingan itu, permintaan emak bisa tenggelam seperti pesan WhatsApp di grup keluarga yang isinya cuma stiker dan hoaks kesehatan.
Masalahnya, orang tua tidak selalu butuh barang.
Sering kali mereka cuma ingin diingat.
Pintu rusak itu mungkin hanya simbol kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar. Sebuah tanda tanya diam-diam.
“Masih dianggap penting nggak, ya?”
“Rumah ini masih dianggap rumah nggak?”
“Keluhanku kalah penting sama cicilan bulanan, ya?”
Dan itu pertanyaan yang pelan-pelan menyakitkan.
Banyak anak merasa sudah berbakti karena sesekali transfer uang. Begitu saldo masuk, hati merasa lunas.
Padahal perhatian tak selalu berbentuk nominal.
Ada hal-hal yang tak bisa dibayar dengan mobile banking, menemani emak ke pasar, dengar cerita yang diulang lima kali, mengganti lampu mati, membetulkan kran bocor, mengecek atap, atau sekadar datang dan bilang, “Mak, apa kabar, ada yang perlu dibantu?”
Emak generasi lama juga jarang pandai bicara terus terang.
Mereka tak bilang rindu, tapi bertanya kapan pulang.
Mereka tak bilang kesepian, tapi bilang beras habis.
Mereka tak bilang ingin diperhatikan, tapi bilang pintu rumah rusak.
Bahasa cinta mereka memang teknis.
Dan kita sering telat menerjemahkannya.
Saat pintu itu akhirnya dipasang, mungkin emak tersenyum kecil. Menyentuh kayunya pelan, mencoba gagangnya, lalu mengangguk puas. Bukan karena pintu itu mewah. Bukan karena datang dari negeri seberang.
Tapi karena anaknya masih datang membawa peduli.
Walau telat.
Dan begitulah emak.
Mereka punya kemampuan supernatural yang tak dimiliki banyak orang modern, memaafkan tanpa rapat keluarga, tanpa konferensi pers, tanpa status sindiran di media sosial.
Kalau anak datang bawa pintu, emak terima.
Kalau anak datang bawa diri saja, emak tetap terima.
Kalau anak datang bawa cucu yang bikin rumah ribut, emak malah paling bahagia.
Sementara kita, generasi yang merasa paling sadar mental health, paling melek finansial, paling paham self growth, kadang terlalu sibuk membangun rumah sendiri sampai lupa memperbaiki rumah pertama yang dulu membesarkan kita.
Padahal tak semua pintu bisa menunggu.
Kayu bisa makin lapuk.
Engsel bisa lepas.
Dan umur emak, seperti umur semua orang tua, berjalan pelan tanpa suara.
Jadi kalau hari ini emak minta sesuatu, entah pintu, kipas angin, pagar, atap, atau sekadar ditemani ke pasar jangan terlalu sering menjawab “nanti”.
Karena suatu hari, bisa saja yang tersisa hanya rumah sunyi dengan pintu baru.
Sementara orang yang dulu memintanya sudah tak ada lagi di balik sana.
Disclaimer: Tulisan opini ini merupakan curhatan penulis bisa fiksi ataupun kisah nyata. Kirim Tulisan Punya opini, cerita, atau gagasan menarik yang ingin dibagikan? Kutipan membuka ruang bagi kamu untuk berkarya. Kirimkan tulisan terbaikmu dan jadilah bagian dari suara publik! Hubungi kami melalui WhatsApp di 0811-7776-644 / email: kutipan.co@gmail.com




