
KUTIPAN – Krisis air bersih kembali menjadi bagian dari siklus tahunan di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Di Kampung Senempek, Kecamatan Lingga Utara, kekeringan yang menyertai kemarau panjang memaksa warga memutar strategi untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Secara geografis, wilayah ini tidak asing dengan cuaca ekstrem. Namun pada musim kemarau kali ini, keringnya sumur dan buruknya infrastruktur distribusi memperparah persoalan dasar, air bersih sebagai kebutuhan pokok hidup. Sumur kecil milik warga masih memproduksi air, tetapi kualitasnya menurun hanya layak untk mandi dan mencuci bahkan disertai bau tak sedap.
Dalam realitas keseharian warga, sumur yang dulu menjadi tumpuan berubah menjadi sumber air yang “cuma cukup”. Alhasil, untuk konsumsi termasuk minum dan memasak sebagian warga harus membeli air secara mandiri. Fenomena ini tidak hanya soal ekonomi rumah tangga, ia juga mencerminkan rapuhnya sistem distribusi air di daerah dengan musim kemarau panjang.
Menanggapi persoalan ini, Pemerintah Kabupaten Lingga, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), memastikan akan melibatkan tim teknis. Tim ini akan menelusuri penyebab kekeringan dan merumuskan langkah konkret.
“Nanti tim dari Dinas PU akan kita turunkan untuk mengidentifikasi langkah apa yang perlu kita lakukan guna mengatasi permasalahan kekeringan air bersih di Kampung Senempek ini,” ujar Deden Trisna Wijaya, Kepala Bidang Cipta Karya PUTR Lingga, Kamis (12/2/2026).
Ancaman kekeringan ini bukan kejadian yang tiba-tiba. Menurut cerita warga setempat, masalah air bersih di Senempek datang setia setiap musim kemarau tiba. Warga yang membutuhkan air acap kali harus mengambil dari sumur pada siang bahkan hingga tengah malam untuk mengamankan jatah harian mereka.
Di balik dampak nyata itu, ada penyebab struktural yang lebih dalam, jaringan pipa distribusi yang rusak parah akibat kejadian kebakaran lahan beberapa tahun lalu. Kebakaran tersebut memicu kerusakan pada pipa yang seharusnya mengalirkan air dari sumber utama ke pemukiman warga.
“Selama ini, pipa air yang ada beberapa tahun lalu bekas kebakaran lahan. Jadi itu lah yang membuat kami kewalahan,” ujar Firmansyah, Kepala Dusun II Senempek, Selasa (10/2/2026).
Upaya warga untuk memperbaiki jaringan pipa secara swadaya dengan gotong royong sejauh ini belum membuahkan hasil signifikan. Perbaikan berskala kecil tidak cukup untuk memulihkan jaringan distribusi air yang kompleks. Ini menempatkan persoalan mendasar bukan hanya pada sumber air yang mengering, tetapi juga pada sistem yang menghubungkan sumber tersebut dengan kebutuhan rumah tangga.
Dalam kondisi “darurat kemanusiaan” itu, satu respons konkret datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lingga bersama Polsek Daik dan Yonif TP/849 Beladau Sakti. Pada Selasa malam, lembaga ini menyalurkan 10.000 liter air bersih sebagai bantalan sementara warga yang terdampak.
“Sudah 10.000 liter yang kita berikan ke warga. Semoga sedikit dapat membantu warga Senempek dalam memenuhi kebutuhannya,” ujar Kepala BPBD Lingga, Oktanius Wirsal.
Meski bantuan ini berarti bagi warga, seluruh elemen baik pejabat daerah maupun warga sendiri memahami bahwa suplai air bersih 10.000 liter bukanlah solusi permanen. Ini hanyalah penyangga sementara di tengah tekanan musim kemarau.
Dalam jangka panjang, perbaikan infrastruktur terutama jaringan pipa distribusi menjadi tuntutan utama. Tanpa pembenahan tersebut, persoalan air bersih akan terus muncul sebagai siklus tahunan yang melelahkan.
Dalam hal ini, Krisis Air di Lingga bukan sekadar tentang sumur yang kering, tetapi juga soal bagaimana sistem distribusi dan tanggung jawab publik berperan dalam memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi di tengah perubahan iklim musiman.





