
KUTIPAN – Sejarah panjang pertambangan timah di Pulau Singkep diangkat dalam sebuah pertunjukan tari bertajuk “Tin From Singkep Island” yang digelar di Kawasan Implasement Timah Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Minggu (25/4/2026).
Pertunjukan ini menghadirkan narasi kuat tentang hubungan antara manusia, alam, dan jejak industri timah yang telah membentuk wajah Singkep hingga saat ini.
Koreografer Tania Syahla Asha mengatakan, karya tersebut merupakan salah satu karya terbesarnya yang berangkat dari refleksi pribadi terhadap daerah asalnya.
“Ini salah satu karya terbesar saya, ini menjelaskan tentang Singkep dan timah. Temanya adalah Tin From Singkep Island,” ujarnya usai pertunjukan.
Menggali Sejarah dan Dampak Tambang Timah
Dalam pementasan tersebut, Tania berupaya menggali kembali sejarah timah di Singkep, termasuk dampak yang ditinggalkan terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Menurutnya, memori tentang kejayaan tambang hingga perubahan kondisi alam menjadi bagian penting dalam karya tersebut.
“Jadi sejarah timah dan Singkep itu digali lagi memorinya, bagaimana sejarahnya, alam dan dampak yang ditinggalkan pertambangan timah,” jelasnya.
Soroti Perubahan Kultur Masyarakat Dabo Singkep
Selain sejarah, pertunjukan ini juga menyoroti perubahan kultur masyarakat Dabo Singkep dari masa lalu hingga sekarang.
Tania mengungkapkan, perubahan tersebut menjadi keresahan pribadi yang kemudian dituangkan dalam karya seni.
“Terus kultur masyarakat Dabo Singkep itu bagaimana dari dulu dan sekarang itu perubahannya seperti apa. Itu sebenarnya keresahan pribadi, menggali lagi apa sih potensi yang ada di Singkep ini,” ungkapnya.

Ia berharap masyarakat dapat kembali melihat potensi daerah dan meningkatkan apresiasi terhadap seni.
“Harapannya semoga masyarakat Dabo Singkep apresiasi terhadap seni lebih tinggi lagi. Banyak anak-anak muda yang berpotensi yang bisa berkarya di Dabo Singkep dan di luar daerah untuk memperkenalkan daerah kita Singkep,” katanya.
Adegan Tanpa Musik, Hadirkan Nuansa Sakral Alam
Salah satu bagian menarik dalam pertunjukan ini terdapat pada adegan ketiga, di mana dua penari tampil di atas pohon tanpa diiringi musik.
Konsep ini dipilih untuk menghadirkan kesan sakral dan kedekatan manusia dengan alam.
“Pada adegan 3 ada 2 penari berada di pohon dan tidak memakai musik, itu motivasinya adalah kesakralan kedua penari itu terhadap alam,” jelas Tania.
“Jadi memang tidak menggunakan musik, jadi musiknya pure dari alam lingkungan sekitar.”
Libatkan 13 Penari dan Didukung Berbagai Pihak
Pertunjukan Tin From Singkep Island melibatkan sebanyak 13 penari dan menjadi kolaborasi lintas bidang seni.
Selain Tania sebagai koreografer, karya ini juga melibatkan:
- Komposer: Anggara Satria
- Sutradara: Mochammad Legawa Allit Albandika
- Lirik/Syair: Heni Darbie
Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Dana Indonesiana, serta dukungan keluarga.
Angkat Identitas Lokal Lewat Seni
Melalui pertunjukan ini, Tania berharap seni dapat menjadi media untuk mengangkat identitas lokal Singkep sekaligus memperkenalkannya ke tingkat yang lebih luas.
Karya ini juga menjadi pengingat bahwa sejarah, alam, dan budaya merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dari perjalanan masyarakat Singkep.
Laporan: Ino/Dito




