
KUTIPAN – Suasana sore di Kampung Kebun Niur, Desa Batu Berdaun, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, terasa berbeda selama bulan Ramadan. Aktivitas ngabuburit yang biasanya identik dengan jalan santai atau berburu takjil, di kampung ini justru diwarnai permainan tradisional yang penuh keseruan.
Setiap sore menjelang waktu berbuka puasa, para remaja kampung tampak berkumpul di area pantai. Seperti yang terlihat pada Selasa (17/3/2026), mereka memanfaatkan waktu dengan bermain bedil spritus, permainan tradisional yang kini mulai jarang ditemui.
Di tepi pantai yang terbuka, suara ledakan khas dari permainan ini terdengar bersahutan. Para remaja terlihat asyik bermain perang-perangan menggunakan alat sederhana yang mereka rakit sendiri.
Bedil spritus sendiri merupakan permainan tradisional yang dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti kaleng dan botol air mineral. Kedua bahan tersebut dirakit menyerupai meriam kecil, kemudian diisi dengan spritus sebelum disulut untuk menghasilkan suara ledakan keras.
Meski terlihat sederhana, permainan ini membutuhkan kreativitas sekaligus kekompakan antar pemain. Suara dentuman yang dihasilkan pun menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak dan remaja di kampung tersebut.
Salah seorang remaja setempat, Pratama, mengaku permainan ini menjadi salah satu cara paling menyenangkan untuk mengisi waktu ngabuburit.
“Main bedil saat ngabuburit sangat mengasikkan, bisa sambil bergurau bersama dengan kawan-kawan dan melupakan handphone,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa permainan tersebut sudah menjadi tradisi yang selalu hadir setiap bulan Ramadan di kampung mereka.
“Mainan ini kalau kami sebut mercon spritus atau bedel. Mainnya pas sore, malam sama subuh,” tambahnya.
Menurutnya, seluruh alat permainan dibuat secara mandiri oleh para remaja. Hal ini justru menjadi bagian dari keseruan, karena mereka bisa berkreasi sekaligus menjaga tradisi yang telah lama ada.
“Pembuatan bedelnya dibuat sendiri, permainan ini setiap bulan puasa,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah gempuran teknologi dan penggunaan gadget, masih ada ruang bagi permainan tradisional untuk tetap hidup. Bahkan, aktivitas ini dinilai mampu mempererat kebersamaan sekaligus menghadirkan suasana Ramadan yang lebih hangat dan penuh kenangan.
Selain itu, keberadaan pantai di Kampung Kebun Niur juga menjadi latar yang sempurna untuk aktivitas ngabuburit. Angin sepoi-sepoi dan pemandangan laut menambah keseruan bermain hingga waktu berbuka tiba.
Tradisi sederhana seperti ini menjadi bukti bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal modern. Justru dari permainan tradisional yang sederhana, nilai kebersamaan dan kreativitas bisa terus terjaga di tengah masyarakat.




