
KUTIPAN – Di Kabupaten Lingga, harapan sering kali datang dalam bentuk tumpukan kertas. Bukan proposal, bukan pula janji kampanye, melainkan CV, lembaran riwayat hidup yang disusun rapi oleh orang-orang yang berharap hidupnya ikut berubah ketika sebuah proyek besar benar-benar berjalan.
Proyek itu bernama PT Tianshan Alumina Indonesia. Sebuah rencana pembangunan pabrik alumina yang sejak awal disebut-sebut akan menjadi lokomotif baru ekonomi Lingga. Lapangan kerja, efek ganda ekonomi, dan masa depan yang lebih cerah semuanya pernah dijanjikan dalam satu tarikan napas optimisme.
Namun, hingga hari ini, yang paling nyata justru rasa menunggu.
Dalam Rapat Akbar yang digelar Aliansi Masyarakat Singkep di Gedung Nasional, Minggu (21/12/2025), Manager Humas PT Tianshan Alumina Indonesia perwakilan Kabupaten Lingga, Parsaroan Sirait, kembali mengulang satu angka yang sejak lama menjadi pegangan banyak orang, tiga ribu.
“Saya tahun 2023 akhir juga berbicara di depan masyarakat saat konsultasi publik Amdal saat itu dan di situ pemaparan kita adalah PT Tianshan ini pada saat konstruksi saja serapan tenaga kerjanya akan mencapai 3.000 orang. Itu pada masa konstruksi selama 3–4 tahun,” ujarnya.
Tiga ribu tenaga kerja di tahap konstruksi. Bukan angka kecil untuk daerah yang lapangan kerjanya sering kali berputar di sektor yang itu-itu saja. Dan angka itu, kata Parsaroan, belum seberapa.
Ketika pabrik mulai beroperasi, cerita menjadi lebih besar. Untuk satu pabrik saja, serapan tenaga kerja diperkirakan mencapai empat ribu orang. Masalahnya, Tianshan tak berencana berhenti di satu pabrik.
“Ketika dia mulai beroperasi produksi, serapan tenaga kerjanya 4.000. Itu satu pabrik. Rencana kita akan mendirikan sampai 3 tahap pembangunan yang total pencapaian tenaga kerjanya itu kemungkinan 12.000 lebih,” jelasnya.

Dua belas ribu orang. Angka yang, bagi Lingga, terdengar seperti jawaban atas banyak pertanyaan lama, soal pengangguran, soal anak muda yang terpaksa merantau, soal ijazah yang menggantung di dinding rumah tanpa pernah benar-benar dipakai.
Masalahnya, sebelum pabrik berdiri, harapan sudah lebih dulu berdatangan. Hingga kini, sekitar 1.200 orang telah memasukkan lamaran kerja ke kantor perwakilan PT Tianshan Alumina Indonesia di Dabo Singkep.
“Sampai sejauh ini sudah ada 1.200 orang pelamar yang sudah memasukkan lamaran kerja di Kantor PT Tianshan Alumina Indonesia perwakilan Kabupaten Lingga yang terletak di Dabo Singkep, kalau saya lihat tumpukan kertasnya saya rasa sedih,” ungkap Parsaroan, yang akrab disapa Panca.
Sedih, bukan karena kurangnya peminat. Justru sebaliknya. Sedih karena proyek yang dijanjikan mampu menyerap ribuan tenaga kerja itu belum juga berjalan.
Kendala utama proyek smelter alumina ini bukan soal modal atau minat pasar, melainkan lahan. Telah menjadi rahasia publik, kini masyarakat Lingga tau, proyek ini belum jalan bukan karena Pemda mempersulit tapi dikarenakan lokasi yang direncanakan untuk pembangunan pabrik disebut beririsan dengan kawasan latihan militer. Untuk itu pada Minggu sore di Gedung Nasional ratusan warga Singkep kompak berkumpul menyatakan sikap membeikan dorongan agar investasi ini segera berjalan.
Sementara itu, di Kantor Tianshan di Dabo Singkep, masyarakat terus datang. Menanyakan lamaran mereka. Menanyakan nasib CV yang sudah diserahkan dengan penuh harap.
Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Panca memilih bahasa yang sederhana dan jujur.
“Saya selalu jawab, bapak, ibu, saya simpan dulu CV-nya. Mudah-mudahan kita segera buka, nanti bapak ibu kami panggil,” katanya.
Ia menegaskan, seluruh data pelamar masih tersimpan rapi di kantor perwakilan perusahaan dan akan digunakan saat proses rekrutmen resmi dibuka.
“Jadi 1.200 orang itu pak yang sudah datang CV-nya ke kita sampai sekarang masih tersimpan rapi datanya di kantor kami,” pungkasnya.





