Copyright © 2020 Kutipan.co

Hi, what are you looking for?

Indonesia

Terkait Covid-19, 109 Tenaga Medis Dipecat

KUTIPAN.CO – Enggan melayani pasien Covid-19, Pemerintah Daerah Ogan Ilir Sumatera Selatan pecat sejumlah perawat yang bertugas di RSUD Ogan Ilir.

Pemberhentian dengan tidak hormat yang berlaku 20 Mei pada 109 tenaga medis itu tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Ogan Ilir nomor 191/KEP/RSUD/2020. Bahwa, para tenaga medis itu diklaim telah meninggalkan tugas selama lima hari berturut-turut saat negara membutuhkan dalam rangka pencegahan pandemi Covid-19.

Diketahui dari 109 tenaga medis itu terdiri dari 45 perawat, 60 bidan, tiga sopir ambulans, dan satu perawat mata.

“Dikatakan kami lalai, padahal tidak. Kami disuruh perang, tapi tidak dipersenjatai. Senjata ada, tapi kami tidak bisa mengaksesnya. Kami mogok supaya Direktur RSUD mendengar keinginan kami, bukan malah dipecat,” kata salah seorang perawat pria yang dipecat yang enggan diungkap identitasnya, dalam keterangannya, Kamis (21/5/2020).

Pemicu gejolak enggannya para tenaga medis itu beralasankan, kurangnya pembekalan terkait penanganan Covid-19 dan APD yang disediakan, sementara RSUD itu ditunjuk sebagai Rumah Sakit dalam penanganan pasien Covid-19.

Menurut mereka, setlah ditunjuk sebagai RSUD penanganan Covid-19, manajemen RS membentuk tim satgas yang selanjutnya tim satgas rumah sakit menunjuk sejumlah perawat sebagai petugas penanganan pasien Covid-19.

Atas ditunjuknya sejumlah perawat itu, mereka menduga ada sejumlah kejanggalan yang mana tidak adanya surat tugas resmi, selain itu pihak Rumah Sakit tidak memberikan pembekalan atau prosedur terhadap penanganan pasien Covid-19.

“Para tenaga medis honorer melihat SK kerja yang diberikan kepada tim gugus tugas lebih jelas ketimbang kepada mereka yang hanya sebatas instruksi semata, selain itu Kami disuruh merawat pasien Covid-19 tanpa pengalaman penanganan dan tidak tahu tata caranya. Jumlah APD dan tata cara pemakaiannya pun tidak diajarkan,” ungkapnya.

Beber dia, bahkan APD (alat pelindung diri) juga terbatas, bahkan APD yang telah digunakan di cuci dan digunkan kembali. Tidak adanya kejelasan terkait insentif.

Melihat kondisi ini, 150 tenaga kesehatan mogok kerja sejak Jumat (15/5/2020). Namun pada Senin (18/5/2020), mereka sempat mendatangi Komisi IV DPRD Ogan Ilir untuk memfasilitasi tuntutan mereka. Kemudian, pihak RSUD meminta waktu hingga Jumat (22/5) untuk mengkaji tuntutan tersebut.

Pada Rabu (20/5/2020), tenaga kesehatan yang mogok disuruh kembali bekerja dan diminta datang ke RSUD. Hanya tujuh orang perwakilan yang datang untuk menemui Dirut RSUD. Malam harinya, mereka mendapatkan salinan SK Bupati yang menyebutkan 109 tenaga kesehatan dipecat.

“Kami yang tidak hadir dianggap mengundurkan diri dari pekerjaan. Ini seperti petir di siang bolong. Padahal tidak seperti itu kesepakatan awalnya karena pihak RSUD belum memberikan penjelasan mengenai insentif dan surat tugas kita,” ungkap perawat tersebut.

Direktur Utama RSUD Ogan Ilir Roretta Arta Guna Riama mengatakan pihaknya melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 109 tenaga kesehatan tersebut karena tidak bisa menerima tuntutan mereka.

“Awalnya kita lakukan pemanggilan lebih dulu untuk berkomitmen bekerja, yang datang hanya tujuh orang. Tidak semua yang mogok kita pecat, ada yang sebagian akhirnya mau bekerja lagi,” kata Dirut RSUD

“Jadi kalau ada yang bilang kami tidak memfasilitasi mereka itu tidak benar. Kita pun tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah keputusan Bupati,” tambahnya.

Ia juga mangatakan, para tenaga medis tersebut mogok bekerja dengan alasan tidak memiliki surat tugas. Padahal, katanya, masing-masing tenaga kesehatan sudah mengantongi SK penempatan yang mengatur tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga paramedis dan sopir ambulans.

Terkait APD dan insentif penanganan Covid-19, dia membantahnya dan menegaskan RSUD Ogan Ilir telah menyediakan sarana penunjang medis agar bisa bekerja sesuai standar.

“APD kita banyak, insentif tersedia bagi yang melayani Covid. Kita juga siapkan 35 kamar di Kompleks DPRD Ogan Ilir untuk tempat istirahat mereka,” klaimnya.

“Intinya mereka tidak melaksanakan tugas dan kewajiban, padahal negara sedang pandemik. Mereka takut merawat pasien yang terpapar virus corona,” Rorreta menuding.

Pemecatan terhadap 109 tenaga kesehatan ini, katanya, tidak akan mengganggu pelayanan medis di RSUD Ogan Ilir. Sebab, masih ada 291 lainnya yang melayani masyarakat.

Editor : Fikri
Source : CNNIndonesia

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply