
Era kerajaan Riau Lingga menjadi fragmen penting dalam tumbuh kembang tamadun Melayu di daerah Riau Indonesia, Singapura dan Malaysia, tiga negara yang dulunya berasal dari emperium Malaka. Silih berganti kekuasaan dan pusat pemerintahan dari Kerajaan Malaka, hingga akhirnya kolonial memisah menjadi dua bagian, yakni Riau dan Johor. Meski terpisah, namun dua kerajaan baru itu juga masih terikat dengan Melayu-nya.
Di Abad 19, Kerajaan melayu ini mencapai puncak peradabannya. Sebagian peneliti menengarai hal itu terjadi di Riau Lingga, tepatnya di pulau Penyengat, ketika menjadi bagian penting pusaran keilmuan dan intelektualisme.
Tokoh penting dibalik tamadun Melayu itu ialah Raja Ali Haji. Ia memiliki banyak karya dan melahirkan intelektual setelahnya. Karyanya menjadi rujukan bagi dua negara. Bahkan tidak sedikit pula anak bangsawan dari dua kerajaan (Riau Lingga dan Johor Pahang) ini dan datang ke Pulau Penyengat untuk belajar langsung ke Raja Ali Haji. Sementara karya-karya Raja Ali Haji juga dipelajari di wilayah-wilayah kerajaan semenajung Malaya. Inilah tonggak penting intelektualisme yang berkembang di tanah Melayu karena dari sini bisa ditarik genealogi intelektual Melayu.
Di antara produk intelektual itu ialah buah karya. Sejak munculnya Raja Ali Haji di Riau Lingga, jumlah penulis semakin banyak, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan. Kalangan intelektual yang tergabung dalam Rusydiah Klub di masa awal, sebagian besar ditengarai pernah belajar langsung kepada Raja Ali Haji. Sebut saja misalnya Raja Ali Kelana (putra dari Yang Dipertuan Muda Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi), Syed Al-Hadi (Sastrawan Malaysia), dan lainnya. Dan menariknya, sebagian besar dari anggota ini juga memiliki karya tulis, baik yang telah diterbitkan maupun belum.
Selama ini kajian, telaah dan penelitian terhadap karya dari kalangan intelektual Melayu Riau-Lingga seringkali berpusat pada karya-karya Raja Ali Haji. Sementara intelektual lain juga masih banyak yang perlu dikaji dan beragam karya tulisnya menarik untuk terus dikenalkan kepada khalayak. Buah karya dari para intelektual Riau Lingga ini cukup berharga untuk menjadi jembatan penghubung masa lalu dengan masa kini dan bahkan untuk membangun masa depan.
Dari penelusuran awal yang penulis lakukan, banyak koleksi dimiliki oleh museum pemerintah ataupun balai di pulau Penyengat. Sebagian lainnya dari naskah-naskah lama masih tersebar di masyarakat. Menariknya, karya orang terdahulu memang tidak semuanya diterbitkan dalam bentuk cetak, tetapi ada yang dalam tulisan tangan. Hal ini membuat karya tersebut tidak tersebar luas sehingga sulit untuk mencari pembandingnya.
Ini pula yang menjadi tantangan bagi para peneliti naskah kuno di Kepulauan Riau. Terlepas dari itu, sebagian besar koleksi dari museum dan balai itu kini bisa diakses terbuka melalui British Library dalam proyek Endangered Archives Programme. Pembaca dapat mengetahui koleksi digital dari Riau dan Kepulauan Riau melalui tautan berikut https://eap.bl.uk/project/EAP153.
Maka, di momentum Ramadan 1447 H atau 2026 ini, penulis akan menyajikan beberapa tulisan yang akan mengulas karya daripada cendekia dan intelektual Riau Lingga. Sebagaimana telah disebutkan di bagian awal, bahwa mengkaji, mengulas, meneliti, menelaah dan lain sebagainya itu, adalah bagian dari upaya untuk menguatkan ketamadunan Melayu. Di momentum ini, karya yang akan penulis ulas yakni karya-karya yang berkaitan dengan ajaran agama Islam. Ini adalah bagian dari tadarus khazanah intelektual, mempelajari ajaran agama Islam berdasarkan tulisan atau karya ulama Riau Lingga.
Perlu diketahui, bahwa keterbatasan waktu dan ruang mungkin akan membuat tulisan tidak terlalu maksimal. Selain itu, ada juga kendala dalam membaca teks bertuliskan Arab Melayu atau Jawi ini, yakni faktor ketebalan tulisan dan keterbacaan tulisan. Tidak semua naskah dalam kondisi yang mudah untuk dibaca, baik karena kualitas fisik teksnya, struktur bahasa serta kosa kata yang digunakan. Sebagaimana diketahui, zaman itu, bahasa Arab adalah bagian dari bahasa ilmiah yang banyak diserap dalam bahasa melayu dan ketika itu pun banyak bahasa melayu lama yang juga masih digunakan.
Karena beberapa keterbatasan tersebut, tentu saja ada bagian yang mungkin kurang maksimal dalam penyajian. Penulis juga berharap agar pembaca kutipan.co juga turut memberikan umpan balik sekiranya ada hal perlu dikoreksi. Ini semua berangkat dari nawaitu untuk menguatkan khazanah intelektual dari para cendekia di Kepulauan Riau. Semoga bermanfaat.Â
Abd. Rahman Mawazi
Dosen STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Awarde LPDP di Universitas Brawijaya





