Sejarah Kejayaan Timah di Pulau Singkep dan Pengamanan Kemaritiman di Laut Lingga

  • Bagikan
Sejarah Kejayaan Timah di Pulau Singkep

KUTIPAN.CO – Singkep merupakan sebuah pulau yang berada di wilayah Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Pulau Singkep per 31 Agustus 2021 dihuni oleh 23.971 jiwa yang terdiri dari laki-laki 12.073 dan Perempuan 11.898 jiwa. Hampir dua abad lamanya sejak dari jaman kesultanan Riau-Lingga hingga saat ini sangat melekat dikenal dengan reputasinya sebagai salah satu pulau penghasil timah terbesar selain Bangka di Sumatera Selatan.

Tersohornya Pulau Singkep tidak hanya dikenal luas di Indonesia bahkan hingga ke manca negara. Penambangan bijih timah di Pulau Singkep tercatat jejaknya sebanyak 6 periode, hal itu diungkapkan dalam catatan di Museum Timah Singkep yang terletak di bekas kawasan PT Timah, Dabo Singkep, Kabupaten Lingga

  1. Kegiatan Penambangan oleh orang-orang pribumi di Pulau Singkep (sebelum tahun 1709)
  2. Periode Kolonial Belanda (VOC) semasa Kesultanan Lingga (Sultan Mahmud Riayat Syah Bin Abdul Jalil) lebih kurang 29 tahun (1783 – 1812)
  3. Periode Kesultanan Lingga (Sultan Abdurrahman Syah Bin Sultan Mahmud Riayat Syah) lebih kurang 75 tahun (1812 – 1887)
  4. Periode Singkep Tin Maatschappij/STM lebih kurang 47 tahun (1887 – 1934)
  5. Periode Singkep Tin Exploitatie Maaschappi/Sitem lebih kurang 25 tahun (1934 – 28 Mei 1959)
  6. Periode Pemerintahan RI 37 tahun (28 Mei 1959 – 31 Desember 1995)
    – NV. SITEM – PPTS (11 Juni 1959)
    – PPTS – PT. Pertis (24 Desember 1959)
    – PT. Pertis – PN. TTS (17 April 1961) PP No.97 tahun 1961
    – PN. TTS – UPTS (5 Juli 1968) PP No 21 Tahun 1968
    – UPTS – UPTS Persero (15 Desember 1976) PP No 3 Tahun 1976
    – UPTS Persero – SATAM VII (29 April 1991 – 01 April 1993)
    – Rekrontruksi PT Timah (01 Januari 1991 – 31 Desember 1995)
    – Tutup Total UPTS TMT. 31 Desember 1995

Sejarah Kejayaan Timah di Pulau Singkep

Kegiatan penambangan bijih timah di mulai sebelum tahun 1709, lalu masuk pada masa kesultanan Riau-Lingga Sultan Mahmud Riayat Syah Bin Abdul Jalil tahun 1783 hingga 1812 yang pada periode Kolonial Belanda (VOC) dan adanya perjanjian antara sultan dengan Belanda tentang izin pengusaha Belanda untuk membuka tambang timah, hingga sampai dengan masuknya PT Timah di Pulau Singkep dan berakhir masa kejayaannya tutup total pada 31 Desember 1995.

Sejak jaman kesultanan, hampir dua abad lamanya penduduk Pulau Singkep dan penduduk pulau-pulau disekitarnya perekonomian mereka sejahtera dan makmur dikarekan adanya penambangan timah tersebut. Kala itu bijih timah merupakan satu-satunya penopang segala pertumbuhan sektor kemajuan Pulau Singkep, baik itu sektor pemerintahan dan perekonomian masyarakat.

Masa kejayaan itu perlahan mulai memudar dikarenakan anjloknya harga timah dunia pada tahun 1986, anjloknya harga timah di pasaran dunia membuat eksplorasi penambangan timah di Pulau Singkep perlahan melesu dan berdampak pada pemutusan hubungan kerja.

Aktivitas penambangan di Pulau Singkep yang saat itu ber-ibukota Kabupaten Bintan perlahan berpindah ke Karimun dan Kundur, lalu pada pada tahun 1995 PT Timah tutup total eksplorasi penambangan di Pulau Singkep.

Dampak dari tutupnya eksplorasi penambangan PT Timah di Pulau Singkep, perekonomian melesu, penduduknya dan sejumlah pengusaha mulai hengkang ke Tanjungpinang, Batam dan Karimun. Selain itu dampak lingkungannya pun terjadi yang mana salah satu dampak besar yakni bekas eksplorasi penambangan bijih timah bentuk lubang-lubang besar (kolong atau danau) disejumlah tempat yang tersebar di Pulau Singkep.

  • Bagikan