Romo Paschal : Tersangka Pencabulan Anak di Bengkong Ngaku Dijebak Korban “Akal Akalan”

  • Bagikan
Panti Asuhan di Bengkong

KUTIPAN.CO – Pengakuan tersangka pencabulan empat orang anak dibawah umur dinilai ngeyel dan mengada-ada. Pasalnya David Martinus Gulo mengaku kalau dirinya dijebak oleh korban.

David Martinus Gulo merupakan anak pemilik salah satu yayasan di Bengkong yang kini dipenjara dan ditahan di rutan Polresta Barelang mengatakan kepada media jika dirinya korban jebakan empat korban anak perempuan di bawah umur.

“Kami menilai, statement tersangka (David Martinus Gulo,red) dibeberapa media dijebak ngeyel. Logika hukum tidak masuk akal. Bagaimana mungkin anak di bawah umur dapat mendesign hal sedemikian rupa? Ini akal-akalan lucu saja untuk melepaskan jeratan hukum,” ucap Koordinator Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP) Kepri Pastor Chrisanctus Paschalis Saturnus akrab disapa Romo Paschal selaku pendamping para korban, pada Sabtu (25/9/2021).

Lanjut Romo, meski begitu ia menghormati statement David Martinus Gulo yang Mem-framming seolah-olah dialah yang menjadi korban atas perlakuan bejatnya kepada anak-anak itu.

“Prinsip hukum pidana Indonesia, diberikan hak kepada tersangka atau terdakwa membela diri jadi sah-sah saja. Tentu majelis hakim akan menilai nantinya adanya rangkaian pidana sebelumnya,” ucap Romo.

Pencabulan Anak di Bengkong
Koordinator Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP) Kepari Pastor Chrisanctus Paschalis Saturnus akrab disapa Romo Paschal | Foto : Ist

Rangkaian peristiwa pidana yang dilakukan oleh David Martinus Gulo selaku bendahara Yayasan Panti Asuhan Cahaya Kasih di Bengkong, Batam telah berlangsung lama.

“Dan lamanya peristiwa itu telah diakui oleh empat korban kepada penyidik. Dan lagi pula, secara adat, salah satu tokoh pemuda masyarakat Nias di Batam tahun lalu telah memperingatkan malahan Jaya Gulo selaku orang tua kandung tersangka ini. Dengan tujuan, agar tak melecehkan anak-anak itu (korban) baik secara verbal maupun non-verbal. Tapi imbauan tokoh itu, tak dihiraukan dan kejadian lagi pada 23 Agustus 2021 sekira pukul 03.00 WIB,” jelas Romo.

Ia mengapresiasi langkah Dinas Sosial Kota Batam dan tim terpadu, yang telah melakukan assesment terhadap anak-anak Yayasan Panti Asuhan Cahaya Kasih.

“Kita apresiasi. Ini demi menyelamatkan anak-anak lain yang ada di dalam panti asuhan itu,” tegas Romo.

Menurut Romo, rekomendasi dinas sosial adalah, Anak-anak diserahkan kembali kepada orang tua anak karena Yayasan Panti Asuhan Cahaya Kasih dinonaktifkan.

Ia berharap agar kejadian dugaan pelecehan seksual atau pencabulan ini, tidak terulang lagi. Dan ini warning bagi kita semua.

“Kami yang bertugas untuk ini, tetap kami kawal. Ini adalah panggilan kemanusiaan bagi kami dan teman-teman jaringan perlindungan anak, perempuan dan migran (safe migrant) lainnya,” pungkasnya.

Untuk diketahui sebelumnya, David Martinus Gulo calon pendeta sekaligus anak pemilik salah satu yayasan di Bengkong, ditangkap unit 6 Polresta Barelang karena diduga telah mencabuli empat orang anak di bawah umur.

Mirisnya, perbuatan cabul yang diduga pria yang kini berstatus tersangka telah berlangsung dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir dan kali ini baru terungkap.

Korban 4 orang. Dua orang diantaranya, berusia 17 tahun dan dua orang lagi berusia 15 tahun, serta 12 tahun.

Menurut pengakuan korban, peristiwa itu terjadi di salah satu yayasan panti asuhan di Bengkong. Korban mengaku bahwa telah dicabuli calon pendeta tersebut. Dan tindakan David Martinus Gulo anak-anak itu saling menyaksikan. Dan telah berlangsung lama.

Puncaknya terjadi pada tanggal 23 Agustus 2021 sekira pukul 03.00 WIB, pelaku masuk ke dalam kamar korban melalui sebuah jendela.

Pelaku melakukan aksinya yakni memegang kemaluan korban hingga membuat korban berteriak dan pas dihidupkan lampu.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, KKPPMP selaku pendamping melaporkan, dan mengurus kepentingan hukum para korban.

Saat ini para korban yang merupakan anak dibawah umur berjumlah 4 orang sudah diamankan disalah satu rumah aman untuk menjalani masa pemulihan psikis.

Sementara itu, menurut Pasal 76E Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dalam Pasal 76E tersebut dikatakan :” Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul”.

Pasal 82 ayat (1) junto Pasal 76E Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dengan sanksi pidana berupa pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun, dan denda paling banyak Rp 5 Miliar.


Laporan : Yuyun

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan