
KUTIPAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sebagai bentuk pemenuhan gizi anak-anak di bulan Ramadan mendapat respon dari sejumlah orang tua di Kota Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.
Keluhan yang berkembang bukan penolakan terhadap program, melainkan soal kualitas dan variasi menu yang dibagikan kepada anak-anak.
“Secara program MBG memang membantu,” kata lebih dari satu orang tua penerima manfaat MBG yang dihimpun media ini pada Selasa (24/2/2026).
Orang tua memahami dan mengapresiasi niat pemerintah dalam menjamin asupan gizi anak, terutama di saat Ramadan.
Namun sorotan muncul pada menu MBG Ramadan yang dinilai kurang variatif dan menurut mereka tidak sesuai standar gizi yang diharapkan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, menu yang dibagikan antara lain: telur, jeruk, puding porsi kecil, serta kacang goreng yang menurut orang tua terlihat hangus
Penyajian kacang goreng dua hari berturut-turut juga dikeluhkan orrang tua penerima manfaat.
“Telah dua hari menu seperti ini. Kami orang tua hanya minta jangan asal-asalan dalam memberikan menu kepada anak,” ujar salah satu wali murid.
Keluhan itu berkembang di grup percakapan WhatsApp orang tua murid dan menjadi bahan perbincangan. Aspirasi yang disampaikan tergolong sederhana, meminta penyusunan menu yang lebih cermat dan mempertimbangkan gizi anak.
Orang tua tidak menyebutkan nama dapur atau identitas penyedia makanan. Hal ini dimaksudkan agar fokus tetap pada substansi permasalahan, yaitu evaluasi program, bukan menyudutkan pihak tertentu.
Menurut orang tua penerima MBG, Ramadan adalah bulan di mana anak-anak yang berpuasa membutuhkan energi dan nutrisi yang cukup agar aktivitas belajar dan ibadah mereka tetap optimal. Orang tua pun memahami bahwa anggaran program telah dialokasikan pemerintah.
“Secara program MBG memang membantu namun kualitas dan variasi menu perlu diperhatikan. Pemerintah sudah mengucurkan anggaran jangan hanya memikirkan keuntungan,” kata salah seorang orang tua lainnya.
Kekhawatiran tersebut menyoroti persepsi bahwa kualitas makanan tidak seimbang dengan anggaran yang telah disiapkan pemerintah.
Selain keluhan soal kacang goreng gosong, beberapa orang tua juga mempertanyakan ketidakhadiran susu dalam menu yang dibagikan. Bagi sejumlah wali murid, ini bukan soal kemewahan, melainkan soal konsistensi pemenuhan gizi yang semestinya menjadi prioritas.
Para orang tua memahami bahwa mengelola ratusan hingga ribuan porsi makanan bukan perkara mudah. Ada tantangan distribusi, ketersediaan bahan baku, hingga kapasitas tenaga kerja.
Namun, karena program ini secara langsung menyentuh kebutuhan anak-anak, standar kualitas dinilai tidak boleh turun hanya karena alasan teknis.
“Kami harapkan jadi perhatian dan evaluasi,” ujar salah seorang wali murid.




