Perusahaan Pembuat Paper Bag Diduga Pekerjakan Anak Dibawah Umur

  • Bagikan

KUTIPAN.CO – Perusahaan pembuatan paper bag atau tas kertas yang berlokasi disekitar Lubuk Baja, diduga kuat telah mengeksploitasi atau mempekerjakan anak-anak di bawah umur.

Anak-anak dibawah umur tersebut dipekerjakan dari pukul 07.30 Wib hingga pukul 19.30 Wib dan hanya menerima upah sebesar Rp 50 ribu per harinya.

Berdasarkan informasi yang diterima, perusahaan tersebut telah beroperasi sekitar 5 sampai 6 tahun dengan produksi pembuatan paper bag yang akan diekspor ke negara tetangga Singapore.

Ketua Perkumpulan Komisioner Perlindungan Anak Indonesia Daerah (PKPAID) se-Indonesia, Erry Syahrial mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan dari masyarakat bahwasanya ada perusahaan yang mempekerjakan anak dibawah umur.

“Untuk memastikan informasi tersebut, kami melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke perusahaan itu, guna mengecek langsung laporan masyarakat, yang menyebut ditemukan beberapa anak sekolah dipekerjakan di perusahaan itu,” kata Erry kepada awak media.

Erry menjelaskan, perusahaan dilarang mempekerjakan anak di bawah umur tanpa mengikuti Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Kepmenakertrans No. Kep. 115/Men/VII/2004.

“Aturan mempekerjakan anak di bawah umur sangat ketat sekali sehingga tidak boleh dilanggar perusahaan. Apalagi ada kesan perusahaan mencari untung besar dengan upah murah dengan¬†mengeksploitasi tenaga anak,” ucap Erry.

Diantaranya, lanjut Erry, diatur dalam Kepmenakertrans No. Kep. 115/Men/VII/2004 antara lain anak yang berumur dibawah 15 tahun dilarang diperkerjakan seharian penuh. Waktu kerja hanya 3 jam sehari tidak boleh lebih dari itu.

“Pekerjaan yang diberikan juga dalam rangka mengembangkan bakat dan minat anak. Sehari tidak boleh lebih dari 3 jam dan 12 jam seminggu. Sementara, prakteknya dilapangan, anak-anak tersebut dipekerjakan 12 jam dalam sehari,” terang Erry.

Maka dari itu, tambah Erry, dengan adanya temuan ini pihaknya meminta kepada instansi terkait dalam hal ini Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Provinsi Kepri. untuk turun kelapangan melakukan pengecekan, pengawasan dan penindakan terhadap perusahaan yang mempekerjakan anak di bawah umur itu.

“Kami minta Disnaker untuk turun langsung melakukan pengecekan dilapangan. Jika terbukti benar ada, saya minta perusahaan itu ditindak sesuai Undang-Undang yang berlaku di negara ini,” pungkasnya.

Merujuk kepada peraturan Ketenagakerjaan, telah diatur secara khusus dalam Undang-Undang No.13 tahun 2003 pasal 77 sampai pasal 85. Dimana, Pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003 mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja.

Ketentuan jam kerja ini mengatur 2 sistem, yaitu 7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu, atau 8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu.

Pada kedua sistem jam kerja tersebut juga diberikan batasan jam kerja yaitu 40 jam dalam 1 minggu. Apabila melebihi dari ketentuan waktu kerja tersebut, maka waktu kerja biasa dianggap masuk sebagai waktu kerja lembur sehingga pekerja atau buruh berhak atas upah lembur.

Ketentuan jam Kerja bagi para pekerja dewasa tersebut juga lebih diperketat untuk pekerja anak lewat kepmenaker no 115 tahun 2004.

Pantauan awak media pada Kamis (23/12), terlihat beberapa orang anak usia belasan tahun sedang asyik melipat-lipat kertas karton yang akan dijadikan tempat parcel maupun bentuk lainnya.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak management perusahaan tersebut belum dapat dikonfirmasi.

Penulis: Yuyun
Editor: Fikri

  • Bagikan