Lingga – Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Kebudayaan akan menggelar tradisi Mandi Safar yang nantinya mengambil fokus lokasi di Balai Adat Melayu, Jalan Raja Muhammad Yusuf, Kabupaten Lingga pada 23 Oktober 2019 mendatang.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga H. Muhammad Ishak mengatakan, jika di tahun-tahun sebelumnya pelaksanaan mandi safar digelar di Reflika Istana Damnah, tahun ini pembukaan pelaksanaan mandi safar mengambil tempat di Balai Adat Melayu. Mengingat Reflika Istana Damnah dalam rencana akan digunakan sebagai kantor/sekretariat sementara dan tempat tersebut akan di rehab tahun ini.

“Acara pembukanya secara sakral digelar pada 23 Oktober mendatang dan di fokuskan di Balai Adat Melayu, mengingat ditempat biasanya digelar akan direhab,” kata Muhammad Ishak, Senin (14/10/2019).

Diketahui tradisi mandi safar telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2018 lalu, dan pelaksanaan di Balai Adat Melayu sebagai kegiatan pembuka saja, untuk selanjutnya terpulang ke masyarakat untuk memilih dimana lokasi akan melaksanakan mandi safar.

“Untuk selanjutnya masyarakat dapat melaksanakannya di berbagai tempat wisata lainnya seperti di pemandian Lubuk Papan, Air Terjun Resun, Pantai Mempanak, Pantai Pasir Panjang, dan ada juga yang mandi di rumah saja,” kata Ishak.

Tradisi mandi safar nantinya akan diawali dengan pawai budaya berkendaraan yang di ikuti anak-anak yang nantinya akan di mandikan sebagai simbolis, untuk pelepasan pawai nya dari Masjid Jami Sultan Lingga, yang di tandai dengan Pawai budaya mengelilingi Kota Daik dan menuju perkampungan Damnah di Jalan Muhammad Yusuf Daik Lingga.

Editor : IKI
Penulis : Agedas