
KUTIPAN – Hujan turun pelan. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat beberapa undangan sedikit merapatkan jaket. Namun, Kamis (8/1/2026) pagi itu, hujan tak pernah benar-benar menjadi alasan untuk menunda apa pun di Kelurahan Sungai Lumpur. Terutama urusan pelantikan RT dan RW, jabatan yang mungkin terlihat sederhana, tapi diam-diam memikul banyak urusan hidup warga.
Sebanyak 31 RT dan RW resmi dilantik. Rinciannya, 7 RW dan 24 RT. Total 31 orang yang kini sah menyandang tanggung jawab sebagai garda terdepan pemerintahan paling bawah. Prosesi berjalan khidmat, tanpa kemewahan, tanpa hiruk-pikuk. Hanya hujan rintik dan kesadaran bahwa setelah ini, akan ada banyak pintu rumah yang harus diketuk—secara harfiah maupun administratif.
Lurah Sungai Lumpur, Raja Roni Wahyudin, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara tersebut. Baginya, hujan bukan gangguan, melainkan sekadar latar suasana.
“Alhamdulillah pada hari ini kita melaksanakan pelantikan RT dan RW. Ada 7 RW dan 24 RT, jadi jumlahnya 31 RT dan RW. Walaupun rintik hujan, Alhamdulillah berjalan dengan khidmat,” ujarnya usai acara.
Dalam nada yang tenang, Raja Roni mengingatkan bahwa RT dan RW bukan sekadar jabatan seremonial. Mereka adalah orang pertama yang biasanya dicari warga ketika urusan administrasi, konflik kecil antar tetangga, hingga persoalan bantuan sosial.

“Tugas dan fungsi mereka nantinya kita harapkan bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat. Partisipasi RT dan RW untuk memberikan layanan itu sangat penting sekali,” katanya.
Namun, bukan hanya soal pelayanan yang disorot. Ada satu isu yang belakangan kerap jadi sumber keruwetan birokrasi, data kependudukan. Dari data ganda, warga yang pindah tapi tak tercatat, hingga yang seharusnya berhak bantuan tapi luput karena nama tak ada di daftar.
“Terkait dengan data-data kependudukan juga kami harapkan nanti RT dan RW bisa memberikan data yang valid yang ada di wilayahnya masing-masing,” tegas Raja Roni.
Di antara deretan RT yang dilantik, ada Ali Fatoni. Baru saja menerima amanah, langkah pertamanya terbilang klasik, tapi penting, mengumpulkan warga. Bukan untuk pidato panjang, melainkan untuk saling mengenal dan mendengar.
“Usai dilantik, saya akan mengumpulkan warga,” singkat Ali Fatoni.
Mungkin di situlah inti dari semua ini. Di balik hujan rintik, kursi plastik, dan prosesi pelantikan yang sederhana, ada harapan besar agar urusan warga tak lagi berputar-putar. Karena pada akhirnya, RT dan RW bukan soal jabatan, tapi soal siapa yang siap mendengar ketika warga mulai bercerita.





