
KUTIPAN – Di Dabo Singkep, Jumat sore itu (19/12/2025), langit belum sepenuhnya gelap ketika beberapa warga memilih berhenti menunggu. Mereka datang ke kantor perwakilan PT Tianshan Alumina Indonesia, bukan untuk melamar ulang, bukan pula untuk demo. Mereka hanya ingin satu hal yang terdengar sederhana, tapi terasa makin mahal harganya, kepastian.
Sejak Agustus 2025, harapan sudah disemai. Wawancara sudah dilalui. Bahasa Inggris sudah dipaksa keluar dari mulut yang sehari-hari lebih akrab dengan logat Melayu. Paspor sudah diurus dengan uang sendiri. Namun hingga akhir tahun, kabar keberangkatan ke China yang dulu disebut-sebut tinggal menunggu September tak kunjung tiba. Maka sore itu, warga Dabo Singkep memilih bertanya langsung, daripada terus membaca kabar investasi raksasa yang tak pernah menyebut nasib mereka.
Fajar, warga Bukit Timah, Dabo Singkep, adalah salah satunya. Ia mengaku mengikuti rekrutmen program kerja sekaligus pendidikan ke China pada Agustus 2025. Seleksi awal dilakukan di Kantor Desa Marok Kecil, Kecamatan Singkep Pesisir.
“Waktu itu kami diwawancarai langsung oleh pihak Tianshan. Pakai bahasa Inggris,” kata Fajar.
Ia yang merupakan lulusan sarjana teknik menyebutkan, pada tahap tersebut dirinya dinyatakan lolos bersama beberapa peserta lain. Bahkan, kata Fajar, informasi keberangkatan sempat disebutkan bakal dilakukan pada September 2025.
“Kami dinyatakan lolos. Informasinya waktu itu siap berangkat September,” ujarnya.
Namun waktu berjalan. September lewat. Oktober menyusul. Tahun hampir berganti. Informasi lanjutan tak juga datang.
Setelah dinyatakan lolos wawancara, para peserta diarahkan mengurus berkas administrasi, termasuk paspor. Fajar mengaku mengeluarkan biaya pribadi demi memenuhi persyaratan itu.
“Saya urus paspor karena tujuannya sekolah ke China. Sudah keluar modal,” katanya.
Cerita serupa disampaikan Febrian, warga Berindat, Kecamatan Singkep Pesisir. Lulusan sarjana administrasi ini juga baru mengurus paspor setelah dinyatakan lolos wawancara.
“Sama, saya juga buat paspor setelah wawancara. Karena diarahkan begitu,” ujar Febrian.
Hingga kini, baik Fajar maupun Febrian mengaku belum mendapatkan informasi resmi terkait status akhir rekrutmen atau kepastian keberangkatan.
Menurut Fajar, kedatangan mereka ke kantor perwakilan PT Tianshan di Dabo Singkep juga dipicu oleh ramainya pemberitaan soal investasi perusahaan tersebut di Kabupaten Lingga. Di tengah kabar proyek besar dan janji lapangan kerja, para pelamar merasa tak boleh terus diam.
“Kami hanya ingin tahu kejelasan lamaran kerja kami. Sampai sekarang belum ada info,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat Lingga sejatinya menyimpan harapan besar terhadap investasi PT Tianshan, terutama soal terbukanya lapangan pekerjaan yang layak bagi warga lokal.
“Harapannya tentu pekerjaan yang baik dan sesuai UMK,” kata Fajar.
Dari informasi yang beredar di kalangan pelamar, Fajar menyebut persoalan lahan disebut-sebut menjadi salah satu penghambat utama kelanjutan program dan investasi PT Tianshan.
“Informasinya, yang terhambat itu soal lahan yang belum selesai,” ujarnya.
Sebelumnya, Sekretaris Daerah Kabupaten Lingga, Armia, menyampaikan bahwa koordinasi dengan Kementerian Pertahanan menjadi kunci, mengingat proyek investasi tersebut bersinggungan dengan kepentingan lintas sektor, termasuk kawasan latihan militer.
“Rasa saya, kalau duduk sama Menhan berarti akan jelas,” ujar Armia, Senin (15/12/2025).
Armia juga mengungkapkan bahwa audiensi yang dijadwalkan pada 15 Desember 2025 batal dilaksanakan lantaran Kementerian Pertahanan masih fokus menangani bencana di sejumlah wilayah Indonesia. Pemerintah Kabupaten Lingga berencana kembali menanyakan kepastian jadwal audiensi tersebut.
Sementara itu, bagi Fajar dan kawan-kawan, waktu terus berjalan. Paspor mereka masih berlaku. Harapan masih ada. Yang belum datang, hanya satu, kabar pasti.





