
KUTIPAN – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap seorang nahkoda kapal TB Trans Permata 5 yang dilaporkan jatuh ke laut (Man Over Board) di perairan Senayang, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, resmi diusulkan untuk ditutup setelah tujuh hari pencarian tidak membuahkan hasil.
Dikonfirmasi pada Senin (16/2/2026) terkait upaya pencarian, Kepala Unit Siaga SAR Lingga, Oktarian, mengungkapkan bahwa pada hari ketujuh operasi SAR (H.7), tim SAR gabungan kembali melaksanakan pencarian sesuai rencana operasi (RenOps).
Berdasarkan dari laporan resmi operasi SAR, tim SAR gabungan memulai pencarian dengan membagi area pencarian menjadi beberapa sektor.
SRU 1 menggunakan RIB 05 USS Lingga melakukan pencarian di perairan timur Kabupaten Lingga sekaligus berkoordinasi dengan masyarakat yang bermukim di pulau-pulau kecil sekitar lokasi kejadian.
Sementara itu, SRU 2 yang terdiri dari nelayan Kabupaten Lingga melakukan koordinasi dan pemantauan bersama organisasi Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Lingga guna memperluas jangkauan pencarian.
Namun hingga pukul 16.00 WIB, hasil pencarian masih nihil dan korban belum ditemukan.
Operasi SAR gabungan melaksanakan debriefing setelah tujuh hari melakukan pencarian intensif di perairan Senayang.
Berdasarkan hasil evaluasi dan kesepakatan bersama seluruh unsur SAR gabungan, pada pukul 16.30 WIB operasi SAR diusulkan untuk ditutup karena tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Meski demikian, tim SAR menyatakan operasi dapat dibuka kembali apabila ditemukan tanda-tanda keberadaan korban di kemudian hari.
Kronologi Nahkoda Hilang di Perairan Senayang Lingga
Informasi kejadian pertama kali diterima pada Selasa, 10 Februari 2026 pukul 08.25 WIB dari Petugas PLP Tanjung Uban.
Insiden tersebut terjadi sehari sebelumnya, Senin (9/2/2026) sekitar pukul 19.30 WIB di perairan Senayang, Kabupaten Lingga, dengan koordinat 00° 07’ 04.87” N dan 104° 48’ 59.13” E.
Korban diketahui bernama Padang Delli Setiyawan (41), seorang nahkoda kapal berkewarganegaraan Indonesia.
Korban terakhir terlihat berada di kabin kapal sekitar pukul 19.00 WIB. Namun satu jam kemudian, saat kru kapal hendak melakukan pergantian jaga dan memanggil kapten, korban tidak ditemukan di area kapal dan diduga terjatuh ke laut.
Lokasi kejadian berada sekitar ±51,42 nautical mile dari Unit Siaga SAR Lingga dengan radial 39 derajat.
Unsur SAR Gabungan Dikerahkan
Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur SAR gabungan, di antaranya:
Kantor Pencarian dan Pertolongan Tanjungpinang
Unit Siaga SAR Lingga
PLP Tanjung Uban
Pos AL Senayang
Polairud Lingga
BPBD Lingga
Agen Kapal TB Trans Permata 5
SROP Lingga
HNSI Lingga
Nelayan setempat
Adapun peralatan yang digunakan meliputi RIB 05 USS Lingga, speed boat Pos AL Senayang, long boat nelayan, perangkat komunikasi, responder bag, dan peralatan evakuasi.
Cuaca dan Gelombang Jadi Kendala Pencarian
Selama operasi berlangsung, tim SAR menghadapi sejumlah kendala, terutama kondisi cuaca dan gelombang laut.
Diambil dari data operasi SAR, gelombang di perairan timur Kepulauan Lingga dilaporkan mencapai 1,5 hingga 2,5 meter.
Selain itu, kondisi cuaca berawan hingga hujan ringan, dengan arah angin dari utara berkecepatan 9 hingga 14 knot, turut mempersulit proses pencarian.
Kondisi tersebut membuat tim SAR harus bekerja ekstra hati-hati demi keselamatan personel dan efektivitas operasi.
Hingga operasi diusulkan ditutup, status korban masih dinyatakan hilang.





