
KUTIPAN – Suasana malam 7 likur di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, berlangsung meriah. Tradisi tahunan yang digelar setiap Ramadan ini kembali menyedot perhatian masyarakat yang berbondong-bondong keluar rumah untuk menikmati keindahan gerbang hias di sejumlah kampung.
Di berbagai sudut perkampungan, gerbang 7 likur tampak berdiri megah dengan dekorasi lampu warna-warni. Tahun ini Ramadan 2026, kemeriahan semakin terasa karena Pemerintah Kecamatan Singkep menggelar lomba gerbang 7 likur, yang diikuti oleh sejumlah kampung di wilayah Singkep.
Jalanan di Dabo Singkep pun terlihat padat oleh warga yang ingin melihat langsung keindahan gerbang-gerbang tersebut. Tradisi ini menjadi momen kebersamaan sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga.
Salah satu gerbang yang menarik perhatian berada di Kampung Boyan. Gerbang tersebut mengusung konsep religius yang sarat makna.
Salah satu pengurus gerbang, mengatakan bahwa tema yang diangkat tahun ini adalah kesucian bulan Ramadan.
“Konsep gerbang kami ini Al-Qur’an, tema kami sucinya bulan Ramadan penuh ketaqwaan,” ujar Egi.
Ia menyebut, partisipasi warga dalam tradisi ini bukan kali pertama. Kampung Boyan bahkan sudah beberapa kali mengikuti lomba serupa.
“Kami sudah 4 kali mengikuti lomba gerbang 7 likur,” katanya.
Persiapan pembangunan gerbang pun dilakukan jauh hari sebelum Ramadan. Warga secara gotong royong mengumpulkan bahan dan mulai membangun secara bertahap.
“Persiapan sebelum puasa sudah mengambil kayu sebanyak 3 lori. Puasa pertama kami sudah cicil bangun gerbang,” jelasnya.
Gerbang tersebut semakin memukau dengan hiasan lampu pelita/colok yang jumlahnya mencapai ribuan.
“Total lampu ada 5 ribu,” tambahnya.
Tradisi malam 7 likur sendiri merupakan budaya masyarakat Melayu yang dilakukan pada malam ke-27 Ramadan. Selain sebagai bentuk syiar Islam, tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata lokal yang mampu menghidupkan suasana malam Ramadan di daerah.




