
KUTIPAN – Lapangan Tri Buana Dompak, Minggu pagi (21/12/2025), tak sedang jadi stadion megah. Tak ada VAR, tak ada tribun VIP, apalagi gemerlap sponsor raksasa. Yang ada justru sepatu-sepatu kecil berdebu, kaus kebesaran, dan teriakan polos anak-anak yang masih belajar membedakan antara ambisi dan kesenangan.
Di tempat itulah Wali Kota Lis Darmansyah berdiri. Bukan untuk menyaksikan laga kelas dunia, melainkan Turnamen Sepak Bola Usia Dini Kelompok U-9, U-11, U-13, dan U-14 yang digelar Sekolah Sepak Bola (SSB) Gurindam Pratama. Sebuah turnamen yang, meski terdengar sederhana, menyimpan pekerjaan besar bernama pembinaan masa depan.
Turnamen ini menjadi ruang belajar bagi generasi muda sepak bola di Tanjungpinang dan Kepulauan Riau. Bukan hanya soal siapa yang mencetak gol paling banyak, tetapi siapa yang paling dulu memahami arti disiplin, kerja sama, dan menerima kekalahan tanpa drama.
Sejumlah pejabat hadir mendampingi Wali Kota. Mulai dari Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Muhammad Yatim, perwakilan Kadispora Provinsi Kepri Zeki, Ketua Askot PSSI Tanjungpinang yang diwakili Direktur Pembinaan Usia Dini Alek, hingga Ketua SSB Gurindam Pratama Bayu Bomantara. Ada pula perwakilan TS Entertainment dan tentu saja, para pelatih serta orang tua yang sejak pagi setia menunggu di pinggir lapangan.
Dalam sambutannya, Lis Darmansyah tak sekadar memuji jalannya turnamen. Ia berbicara soal hal yang sering dilupakan ketika sepak bola mulai dibicarakan terlalu serius: nilai.
“Pembinaan olahraga harus dimulai sejak usia dini. Turnamen seperti ini bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi tempat bagi anak-anak kita untuk belajar tentang disiplin, kerja sama, sikap rendah hati, serta sportivitas. Inilah nilai-nilai yang harus terus kita tanamkan,” ujar Lis.
Baginya, pembinaan usia dini bukan urusan jangka pendek. Ini soal menyiapkan manusia, bukan sekadar atlet. Karena dari lapangan kecil seperti ini, karakter seseorang mulai dibentuk—apakah ia belajar menghormati wasit, menerima keputusan, dan bangkit setelah kalah.
Lis juga menegaskan bahwa Pemerintah Kota Tanjungpinang tak ingin sekadar datang lalu pulang. Dukungan terhadap olahraga, katanya, akan terus diberikan.
“Kami ingin mencetak generasi muda Tanjungpinang yang unggul, tidak hanya dalam olahraga tetapi juga dalam karakter dan perilaku. Pembinaan usia dini adalah kunci menuju prestasi yang lebih besar di masa depan,” tambahnya.
Pesan serupa juga ia sampaikan langsung kepada para atlet muda. Pesan yang mungkin terdengar klise, tapi justru penting untuk diulang.
“Untuk seluruh anak-anak yang bertanding hari ini, teruslah berlatih dan jangan cepat puas. Tetap hormati pelatih dan orang tua, jaga sportivitas, serta jadikan kemenangan sebagai penyemangat dan kekalahan sebagai pelajaran berharga untuk menjadi lebih baik,” tegas Lis.
Soal hasil pertandingan, anak-anak ini juga belajar satu hal lain: tidak semua orang bisa pulang sebagai juara. Pada kategori U-9, GP-Biru keluar sebagai juara pertama, disusul PLN, Karya Muda Ungu, dan SSB Busung. Kategori U-11 dimenangkan Karya Muda Pink, diikuti GP Putih, Doszer, dan SSB Gass.
Di kategori U-13, GP Putih berada di posisi teratas, disusul SSB PLN IP, Arwono Karimun, dan Karya Muda Merah. Sementara pada kategori U-14, Karya Muda menjadi yang terbaik, diikuti GP, SSB Gass, dan Bintan Muda.
Namun pada akhirnya, turnamen ini tak melulu soal podium. Ini tentang membiasakan anak-anak hadir tepat waktu, berlatih rutin, saling menyemangati, dan pulang dengan cerita—entah menang atau kalah.
Lis Darmansyah menutup kehadirannya dengan harapan sederhana tapi bermakna.
“Anak-anak kita adalah masa depan olahraga Tanjungpinang. Tetaplah berlatih, jaga semangat, dan teruslah melangkah menuju prestasi terbaik,” tutup Lis.





