
KUTIPAN – Program ketahanan pangan berbasis hidroponik yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Amanah di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga mulai menunjukkan hasil positif.
Melalui budidaya sayuran hidroponik di dalam greenhouse, BUMDes Amanah berhasil melakukan panen perdana sebanyak 1.000 batang sayur jenis pakcoy dengan kualitas yang dinilai cukup baik.
Ketua BUMDes Amanah Desa Tanjung Harapan, Nopiansyah mengatakan bahwa program hidroponik ini merupakan salah satu upaya meningkatkan ketahanan pangan di tingkat desa sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa untuk membangun satu unit greenhouse hidroponik membutuhkan modal yang cukup besar.
“Untuk modal awal hidroponik ini, satu greenhouse-nya sekitar Rp30 sampai Rp35 juta,” ujar Nopiansyah saat diwawancarai usai panen perdana sayur hidroponik di greenhouse yang berada di Sergang Laut pada Minggu (8/3/2026).
Saat ini, program hidroponik tersebut baru memiliki satu unit greenhouse yang aktif berproduksi. Namun, BUMDes Amanah menargetkan pembangunan hingga tiga greenhouse agar kapasitas produksi sayuran dapat meningkat.
“Yang sudah berjalan ini ada satu greenhouse, target kita tiga greenhouse,” jelasnya.
Menurutnya, satu unit greenhouse hidroponik mampu menampung hingga sekitar 1.000 lubang tanam yang bisa digunakan untuk berbagai jenis sayuran.
“Satu greenhouse itu 1.000 lubang,” ungkap Nopiansyah.

Pada panen perdana yang dilakukan, BUMDes Amanah berhasil memanen sekitar 1.000 batang pakcoy dari greenhouse yang telah dibangun.
Nopiansyah mengaku bersyukur karena hasil panen pertama tersebut cukup memuaskan dan memiliki kualitas yang baik.
“Alhamdulillah untuk panen perdana ini, panen 1.000 batang jenis sawi pakcoy, Alhamdulillah bagus,” katanya.
Pakcoy hidroponik yang dipanen tersebut kemudian dipasarkan kepada masyarakat di sekitar Desa Tanjung Harapan.
Untuk pemasaran, BUMDes Amanah memprioritaskan kebutuhan masyarakat desa terlebih dahulu sebelum menjual ke pasar yang lebih luas.
“Untuk penjualan, kita prioritasnya masyarakat desa kita dulu, kemudian ke kios-kios yang ada di Desa Tanjung Harapan, selebihnya kita jual bebas bisa ke pengepul sayur atau ke pasar tradisional,” ujarnya.
Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau bagi masyarakat. Saat ini, sayur pakcoy hidroponik tersebut dijual dengan harga Rp5 ribu per ikat.
“Satu ikatnya untuk pasaran saat ini, kalau dari kami itu Rp5 ribu per ikat,” kata Nopiansyah.
Dengan harga yang relatif terjangkau serta kualitas sayuran yang segar, pihak BUMDes berharap produk hidroponik ini dapat menjadi pilihan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sayuran sehari-hari.
Ke depan, BUMDes Amanah juga berencana memperluas jenis sayuran yang ditanam di greenhouse hidroponik.
Jika tiga greenhouse telah terbangun, maka masing-masing greenhouse akan diisi dengan berbagai jenis sayuran yang berbeda.
“Untuk tiga greenhouse ini kita bagi ada sayur sawi, pakcoy ada kangkung, bayam dan selada juga ada ke depannya,” jelasnya.
Diversifikasi jenis sayuran ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas pilihan sayuran segar bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Desa Tanjung Harapan, Irwansyah menyampaikan bahwa program hidroponik tersebut merupakan bagian dari program ketahanan pangan desa yang dikelola oleh BUMDes Amanah.
Ia menegaskan bahwa pemerintah desa terus memberikan dukungan penuh terhadap program tersebut.
“Alhamdulillah untuk ketahanan pangan tahun 2025, dikelola oleh BUMDes dan kami dari pemerintah desa tetap mensuport dan memantau,” ujar Irwansyah.
Ia juga mengungkapkan bahwa total anggaran yang dialokasikan untuk program ketahanan pangan hidroponik tersebut mencapai Rp158 juta.

Dana tersebut digunakan untuk pembangunan tiga unit greenhouse serta berbagai kebutuhan penunjang budidaya hidroponik.
“Untuk program ketahanan pangan hidroponik ini semuanya Rp158 juta ada tiga greenhouse,” jelasnya.
Selain untuk memenuhi kebutuhan sayuran masyarakat di Desa Tanjung Harapan, pemerintah desa juga menargetkan hasil produksi hidroponik tersebut dapat memasok kebutuhan program MBG.
Dengan meningkatnya produksi sayuran melalui tiga greenhouse nantinya, diharapkan desa mampu menjadi salah satu pemasok sayuran segar secara berkelanjutan.
“Target kita selain untuk kebutuhan masyarakat, kita juga akan memasok ke MBG,” kata Irwansyah.(Dito)




