Kenali dan Begini Cara kerja Telemedicine, Layanan Kesehatan di Masa Pandemi

  • Bagikan
Layanan Kesehatan di Masa Pandemi

KUTIPAN.CO – Pemerintah mulai menerapkan telemedicine bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di rumah. Terdapat 11 aplikasi telemedicine yang digandeng pemerintah sebagai layanan pemeriksaan kesehatan bagi pasien Covid-19.

Telemedicine atau Telemedis diklaim sebagai teknologi yang menjadi solusi baru bagi pasien untuk mengetahui kondisi kesehatannya di masa pandemi Covid-19, tanpa harus bepergian dan bertemu secara langsung dengan tenaga medis.

Lalu, Apa itu Telemedicine? Bagaimana mekanismenya? Dan sejauh mana penggunaannya di dunia kesehatan di Indonesia?

Staf Ahli Menkes Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi, Achmad Yurianto menjelaskan, sebagai negara keempat dengan populasi terbesar di dunai, Telemedicine berbasis komunitas sangat penting bagi Indonesia. Karena itu, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan teknologi layanan kesehatan berbasis digital.

Dilansir dari Wikipedia, Telemedicine merupakan layanan kesehatan jarak jauh menggunakan komunikasi audio, visual dan data medik eletronik yang ditransfer dari satu lokasi ke lokasi lain. Baik itu perawatan, diagnosis, konsultasi dan pengobatan, maupun pertukaran data medis dan diskusi ilmiah dari jarak jauh.

Penggunaan teknologi Telemedicine selain dapat mempermudah pasien, ternyata juga dapat menyebabkan turunnya tingkat stres yang dialami oleh dokter. Perusahaan di bidang teknologi kesehatan, Royal Philips mengumumkan temuan studi bertema Future Health Index (FHI) yang dilakukan di 15 negara. Hasil temuan menunjukkan adanya sikap dan keyakinan serta etos kerja yang luar biasa para tenaga kesehatan terhadap pekerjaannya, serta pandangan optimis untuk masa depan pelayanan kesehatan digital.

Meskipun begitu, mekanisme Telemedicine jelas berbeda dengan bertemu tenaga medis secara langsung. Lantaran, hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai observasi yang tidak cukup hanya dengan melakukan rekam medis.

Untuk itu, Wakil Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI) Pukovisa Prawiroharjo mengatakan bahwa pasien harus memahami bahwa kualitas pertemuan hingga diagnosis Telemedicine jelas berbeda tatap muka secara langsung.

Menurut Pukovisa, Secara garis besar, Telemedicine dapat membantu tenaga medis menangani pasien dengan melakukan pemeriksaan rekam medis serta keluhan yang dialami pasien tanpa harus bertatap muka. Namun, kekurangannya, tenaga medis tidak dapat melakukan pemeriksaan fisik.

“Sehingga akan mempengaruhi kualitas diagnosanya,” katanya dalam seminar daring Digital Transformation: Breaking Through The Difficulties pada 15 Juni 2020 lalu.

Dengan demikian, menurut Pukovisa diperlukan adanya kerja sama antara pasien saat berkonsultasi dengan tenaga medis, sehingga apa yang dikonsultasikan via Telemedis lebih akurat. Di sisi lain, karena tenaga medis tidak dapat bertemu secara langsung, pasien juga harus meningkatkan kompetensi diri.

Di antaranya mengetahui cara mengukur tekanan darah sendiri, mengetahui suhu tubuh, lingkar pinggang yang merujuk pada risiko diabetes, dan tes pernapasan hingga jantung.

“Karena ini berguna untuk membantu dokter menentukan obat dan pertolongan yang tepat,” terang Pukovisa.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Eric Daniel Tenda menuturkan peningkatan kompetensi diri tersebut dapat dipelajari dari situs kesehatan resmi. Dengan membekali diri, menurut Eric, pengecekan kesehatan akan sangat membantu tenaga medis.

“Jadi keberhasilan pengobatan jika mengandalkan pembatasan jarak sepenuhnya tergantung dari kerja sama keduanya,” katanya.

Di Indonesia sendiri, Telemedicine sudah memiliki regulasi dan tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 20 Tahun 2019. Dalam pasal 3 peraturan tersebut menyebutkan bahwa layanan Telemedicine tak terbatas pada konsultasi saja, Telemedis ini juga meliputi pelayanan teleradiologi, tele-EKG, tele-USG, dan lain-lain.

Berbagai platform online di Indonesia juga sudah memiliki layanan Telemedicine. CEO Halodoc Jonathan Sudharta mengatakan bahwa konsultasi yang diberikan secara daring melalui platform Telemedicine dapat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk tetap berobat dan memeriksakan diri.

“Dengan wabah virus Corona, mereka pun bisa tetap menjaga diri karena tidak perlu pergi ke rumah sakit untuk mendapat perawatan,” kata Jonathan, dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin, 23 Maret 2020 lalu.

Head of Medical Management Good Doctor Adhiatma Gunawan menerangkan bahwa selain dapat memberikan antisipasi penyebaran virus Corona akibat bepergian ke tempat ramai, Telemedicine dapat menjangkau berbagai pasien di Indonesia.

“Pasien yang mengalami keluhan tidak hanya di Jawa, tapi bisa juga di Sumatera, Kalimantan dan sebagainya. Mereka pun juga bisa mendapatkan akses kesehatan yang sama lewat Telemedicine,” kata Adhitama.

Editor : Fikri
Soure : Tempo

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan