Jaringan Peduli Migran Kampanyekan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Kota Batam

  • Bagikan
Jaringan Peduli Migran

KUTIPAN.CO – Jaringan Peduli Migran, Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Batam menggelar kegiatan semarak kampanye anti kekerasan terhadap perempuan & anak tahun 2021, bertempat di Atrium Mall Botania 2 Kota Batam, pada Sabtu (18/12/2021).

Jaringan ini adalah gabungan dari 10 lembaga masyarakat yang selama kurang lebih 5 tahun terakhir ini selalu peduli terhadap isu migran, perempuan dan anak di Kota Batam khususnya, Kepri dan Indonesia pada umumnya.

10 Lembaga tersebut adalah Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoran Migran Perantau (KKP PMP), Yayasan Embun Pelangi (YEP), Rumah Faye (RF), Yayasan Dunia Viva Wanita (YDVW), Yayasan Lintas Nusa (LINUS), Yayasan Layanan Informasi Bantuan Advokasi Kemanusian (LIBAK), PKBM Bina Mandiri, Gembala Baik, Yayasan Insan Sehati Sebalai (YISS) dan Pusat Pembelajaran Keluarga Gurindam Provinsi Kepulauan Riau (PUSPAGA).

Romo Alexander Dato, SS.CC, selaku ketua panitia mengatakan, kegiatan ini dalam rangka memperingati hari anti kekerasan perempuan dan anak Kota Batam.

“Hari ini, 18 Desember bertepatan dengan hari Migran Internasional, kami menjadikannya sebagai puncak dari kegiatan kampanye yang dilakukan jaringan ini,” ujar Romo Alexander.

Kegiatan hari anti kekerasan terhadap perempuan dan anak ini telah dimulai sejak tanggal 25 November yang lalu dan kini sampai di puncak kegiatan.

“Kami bersama teman-teman sudah mengawali kegiatan ini dengan seminar pandangan agama-agama tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak 25 November yang lalu sekaligus pembukaan kampanye ini. Kami bersyukur acara itu berlangsung dengan baik dan melibatkan semua agama di Indonesia,” ucapnya.

“Kami berharap ini menjadi pijakan kita bersama bahwa tidak ada satu agamapun di nusantara ini yang mengizinkan umatnya melakukan kekerasan dan kita harus terus menerus mengkampanyekan hal tersebut,” tutup Romo Alex.

Di sela-sela kegiatan penutupan kampanye, Kang Irwan selalu coordinator jaringan yang biasa juga dikenal dengan jaringan safe Migrant Kota Batam menjelaskan beberapa catatan angka kekerasan selama tahun 2021.

Untuk kekerasan seksual 33 kasus dengan korban 33 anak dan 9 dewasa, tindak pidana perdagangan orang 39 kasus dengan korban 1 anak dan 38 dewasa, KDRT 9 kasus dengan korban 3 anak dan 9 dewasa.

Lanjutnya, eksploitasi ekonomi sebanyak 7 kasus dengan korban 18 anak dan 5 dewasa, kekerasan fisik 63 kasus dengan korban 60 anak dan 3 dewasa, penelantaran 3 kasus dengan korban 4 anak, PMI bermasalah sebanyak 22 kasus dengan korban 22 dewasa.

“Ini menjadi keprihatinan kita bersama dan terkait persoalan kemanusiaan kita harus tetap bergerak bersama,” jelasnya.

Romo Alex menambahkan, dari para penanggap kami berharap bahwa perlu lebih ditingkatkan sebuah kerjasama yang baik antara kepolisian dan pemerintah dengan lembaga-lembaga penyedia layanan dalam pendampingan dan penanganan kasus-kasus kekerasan yang ada di kota Batam.

“Dukungan tersebut bukan hanya sebatas dukungan moral tetapi juga dukungan finansial terhadap lembaga-lembaga yang selama ini bergerak dalam penyedia layanan bagi para korban kekerasan,” tutup Romo Alex.

Ditempat yang sama, Dewi selaku anggota jaringan dan pimpinan Rumah Faye di Batam menambahkan, kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian dan tanggungjawab penyedia layanan agar perlindungan perempuan dan anak terpenuhi.

“Kegiatan kampanye ini sangat penting mengingat bahwa akhir-akhir ini kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak begitu tinggi,” kata Dewi.

Ia pun menambahkan bahwa jaringan peduli migran, perlindungan perempuan dan anak Kota Batam mengajak masyarakat, tokoh-tokoh agama, pemerintah dan instansi-instansi lainnya ikut berpartisipasi dalam mengkampanyekan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Pada kesempatan yang sama Romo Paschal selaku koordinator KKKPPMP yang juga tergabung dalam jaringan ini menyampaikan sikap dan dukungannya terhadap kegiatan ini.

“Kita semua hendaknya membangun sebuah komitmen bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling istimewa. Karena itu, kita semua diajak untuk membangun sebuah budaya baru dalam memandang dan menghormati setiap manusia, khususnya kaum perempuan dan anak,” ujar Romo Paschal.

Lanjutnya, menghormati manusia berarti kita menghormati Tuhan yang telah menciptakan manusia itu sendiri.

“Mari kita lindungi dan selamatkan anak dari predator-predator anak. Mari kita dukung supaya hukum ditegakan secara tegas bagi pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak,” pungkasnya.

Di akhir sambutan ketua panita kampanye ini mengajak semua pihak untuk “Bergerak bersama warnai dunia dengan menghormati martabat perempuan dan anak demi Indonesia maju”.

Kegiatan ini dihadiri oleh para penanggap yakni Wakil Ketua DPRD Kepulauan Riau, Dra Dewi Kumalasari, M.Pd, Kasubdit IV Polda Kepri AKBP Achmad Suherlan, S.I.K, , Kepala DP3P2KB Misni, SKM, MSI, Redaktur Senior Batam Pos Mas Nur, dan BP2MI Kota Batam.

Kegiatan kampanye hari anti kekerasan terhadap perempuan dan anak yang telah dimulai tanggal 25 November 2021 dan berakhir pada tanggal 18 Desember 2021 ini telah mengambil berbagai bentuk-bentuk kegiatan.

Pemasangan spanduk, seminar pandangan agama tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak, lomba menggambar dengan melibatkan anak-anak usia 7 hingga 12 tahun dan 13 hingga 18 tahun dan catatan akhir tahun sekaligus pentas seni.

Yuyun

  • Bagikan