Copyright © 2020 Kutipan.co

Hi, what are you looking for?

Batam

INSA Batam, Ditengah Keterpurukan Ekonomi Galakkan Kembali Sektor Perkapalan

Ketua INSA Batam Osman Hasyim | Foto : Istimewa

INSA Batam, agar optimal dalam membangun roda perekonomian kota Batam berjaya kembali ditengah keterpurukan ekonomi saat ini, Indonesian National Shipowners Association (INSA) Batam mendorong BP Batam untuk merubah aturan kebijakan dan menghidupkan kembali dunia maritim.

“Dengan letak wilayah geografis yang strategis serta memiliki infrastruktur, sofware dan tenaga terampil kota Batam dapat berjaya kembali melalui dunia maritim, namun dengan merubah aturan kebijakan yang ada,” kata Ketua INSA Osman Hasyim kepada wartawan, Rabu (23/9/2020).

Dunia maritim yang dimaksud oleh ketua INSA ini yakni shipyard atau galangan kapal yang tersedia dan tersebar disejumlah wilayah di kota Batam yang saat ini mati suri dan dahulunya shipyard atau galangan kapal ini salah satu wadah yang mampu menyarap banyak tenaga kerja tempatan dan luar daerah sehingga perekonomian masyarakat meningkat pesat.

“Artinya shipyard, pelabuhan dan tenaga kerja terampil kita sudah ada, kita sudah punya jalur transportasi dan berdekatan dengan Singapura sehingga memesan barang atau mensuplay sesuatu bisa cepat,” kata dia.

Baca Juga : Dua Kapal Kargo Pengangkut Kontainer Kandas Di Perairan Batam

Lanjutnya, dahulu industri perkapalan sangat memberikan dampak dan maju pesat di kota Batam sebab kebijakan aturannya sangat terbuka dan wellcome dengan membiarkan kapal masuk sebab dengan demikian multiplayer efek dan feedbacknya sangat banyak sekali, salah satu contoh nya tersedianya lapangan pekerjaan bagi masyarakat, suplay makanan dan suplay bahan bakar yang beroperasi di Batam.

“Satu kapal tidak melakukan kegiatan reparasi pun pendapatan paling sedikit sekitar Rp200 juta itu untuk bahan bakar, makan dan gaji, belum mereka melakukan kegiatan lain-lain. Apalagi jika sampai melakukan reparasi kapalnya di Shipyard yang ada di kota Batam,” jelas Osman.

Bercerita kebelakang, menurut Osman Hasyim pada tahun 2016 di Batam terdapat sebanyak 51 ribuan kapal yang masuk jika dikalikan saja dengan Rp200 juta maka ada triliunan rupiah dalam satu bulan uang berputar di kota Batam. Namun sekarang ungkap Osman dari informasi yang dia himpun dalam satu hari hanya terdapat 30 sampai 40 kapal saja yang masuk ke kota Batam, kondisi itu sangat jauh berbeda dari tahun 2016 silam.

“Artinya dari tahun 2010 hingga 2016 ada kepercayaan orang untuk meletakkan hartanya, kapal ini kan barang mahal, sudah barang mahal pengeluarannya besar tidak seperti mobil kita parkir tidak bayar, kalau kapal disandarkan saja bayar ke negara,” kata Osman.

Baca Juga : Kunjungi Batam, Menteri Kelautan Dan Perikanan Ekspor Rumput Laut

Untuk itu kata Osman sejak dari dahulu INSA Batam senantiasa mendorong BP Batam selaku pemilik kebijakan untuk tidak melakukan dan merubah aturan kebijakan pungutan di pelabuhan yang bukan milik atau aturan dari pemerintah, hal tersebut yang menurut Osman selaku Ketua INSA Batam membuat enggan kapal masuk ke Batam.

“Karena kalau itu dipungut mahal sekali, karena mahal itulah orang tidak mau datang, kemudian sistemnya juga, kapal belum masuk sudah disuruh bayar. Di dalam UU PNPB itu diperbolehkan ada 2 sistem yakni prabayar dan paska bayar, itu tidak salah menurut UU jasa kita terima dulu baru bayar, ini tidak, jasa belum diberikan sudah dibayar dulu, secara prinsip dan strategi itu kurang benar,” ujar Osman.

Harapannya, rubahlah kebijakan sesuai dengan aturan, namun tidak meminta merubah aturan ikuti peraturan yang ada. Sebab dengan demikian menurut Osman yang menjadi korban atau dirugikan dan berdampak pada masyarakat secara luas dengan hilangnya lapangan pekerjaan.

Penulis : Yuyun
Editor : Fikri

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Rela Dicopot, Anggota DPRD Ini Tolak Keras Omnibus Law

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply