Jakarta – Mulai 1 Januari 2019 pemerintah resmi melarang peradaran minyak goreng curah, pelarangan tersebut mengingat terkait kebersihan serta hiegenis minyak goreng curah tersebut.

Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Suhanto mengatakan, minyak goreng yang dijual secara curah tak higienis dan mudah terkontaminasi dalam proses distribusinya.

Dikatakan juga oleh Suhanto, minyak goreng curah kerap kali didistribusikan kepada para pedagang dengan wadah terbuka, sehingga mudah terkontaminasi, baik oleh kecoa maupun lalat.

“Proses distribusi minyak goreng curah menggunakan wadah terbuka sehingga rentan terkontaminasi. Mungkin ada kecoa, ada lalat, itu dalam hal pendistribusian. Kalau sudah dikemas dari pabrik kan tak ada kontaminasi itu,” ungkap Suhanto, Senin (7/10/2019).

Selain itu minyak goreng curah juga tidak di lebeli informasi produk dan dikemas dengan baik. Sehingga, dengan menerapkan penjualan minyak goreng curah wajib dalam kemasan, masyarakat akan memperoleh haknya yakni keamanan dan kenyamanan dalam mengonsumsi suatu produk.

“Minyak goreng dalam kemasan lebih memenuhi hak konsumen karena mencantumkan informasi produk seperti merek dagang, nama produsennya, terus kadaluarsa, ada label halal, berat bersih, itu lebih memihak,” jelas dia.

Kedepannya, produsen dan distributor harus mencantumkan informasi atas kemasan yang di pasarkannya. Sehingga, masyarakat tak lagi menerima minyak goreng curah yang dikemas dalam plastik ‘literan’ yang selama ini beredar di pasaran. Menurut Suhanto, dengan kebijakan ini masyarakat akan mengkonsumsi minyak goreng yang lebih higienis dan terhindari dari praktik pengoplosan.

Editor : Afik
Source : Detikcom