Selamat Tahun Baru Kutipan Berita

Heboh Jenazah Tertukar di Batam, Begini Kronologinya

  • Bagikan
Foto headline, jenazah tertukar di batam, rs bhayangkara polda kepri

KUTIPAN.CO – Masyarakat Batam dihebohkan dengan kasus jenazah tertukar. Pihak keluarga korban menyesali atas kelalaian pihak rumah sakit, Selasa (25/5/2021).

Foto headline, jenazah tertukar di batam, rs bhayangkara polda kepri

Sebelumnya jenazah Abdul Hamid dikabarkan meninggal dunia karena mengidap penyakit asma. Kemudian tim gugus membawa jenazah tersebut ke Rumah Sakit Bhayangkara Batam untuk dilakukan pengecekan apakah jenazah Abdul Hamid positif corona.

Namun berselang beberapa lama usai pengecekan dari pihak rumah sakit, jenazah tersebut dibawa ke Tanjung Sengkuang dimana tempat saudara Abdul Hamid berada.

Ketua KKSS Kota Batam, Masrur Amin menjelaskan, awalnya jenazah sudah siap untuk dimakamkan. Namun tim gugus tugas covid-19 sudah terlebih dahulu menjemput jenazah dan dibawa ke RS. Bhayangkara Batam.

“Setelah dilakukan test pertama keluar hasil yang menyatakan negatif. Namun setelah menunggu beberapa lama untuk hasil dari tim gugus tugas, Pihak rumah sakit seakan mempersulit pihak keluarga untuk membawa jenazah tersebut,” ucap Masrur.

Karena melihat jenazah di RS. Bhayangkara Batam berbeda. Pihak keluarga mempertanyakan hal tersebut kepada rumah sakit dan mengatakan bahwa jenazahnya telah tertukar.

“Saat mengetahui jenazah telah tertukar, pihak rumah sakit bergegas untuk menghubungi pihak keluarga Sing Peng,” jelas Masrur.

Masrur menambahkan, ada beberapa hal yang disesalkan oleh pihaknya atas apa yang terjadi. Sebab kelalaian dari pihak rumah sakit yang bisa menyebabkan tertukarnya jenazah Abdul Hamid dengan Sing Peng.

“Kami sangat menyayangkan apa yang terjadi atas kelalaian pihak rumah sakit. Namun saat ini keluarga sudah menerima dengan ikhlas apa yang terjadi menimpa jenazah Abdul Hamid. Mungkin itu takdir dari yang Maha Kuasa,” ungkapnya.

Pihaknya menghargai adanya kejujuran dari pihak rumah sakit dan institusi terkait, jadi sisa tulang dan tengkorak bisa diambil dan dimakamkan secara aturan islam.

“Kami berharap untuk pihak rumah sakit tidak mempersulit pihak keluarga dalam mengambil jenazah, kalau bisa ikutilah kode etik yang berlaku dan jangan mencoba-coba mengambil kesempatan di situasi pandemi saat ini,” tandasnya

Sejauh ini pihaknya belum mendiskusikan lebih lanjut apakah ada upaya hukum lainnya yang akan ditempuh.

“Tuntutan kita bagaimana pihak rumah sakit membantu korban, mungkin ada sedikit perhatian dari RS. Bhayangkara, namun itu tidaklah menjadi tuntutan yang mutlak,” pungkasnya.

Sementara itu, pihak keluarga Sing Peng, sepupunya bernama Awi mengatakan, kejadian bermula ketika bapak menjenguk korban ke rumah sakit. Setelah itu bapak mengambil foto dan akan mengirimkan gambar tersebut kepada keluarganya di kampung.

“Belum sempat terkirim HP bapak mati. Setelah itu bapak langsung menuju kerumah duka, setelah jenazah tiba disana. Saya juga belum sempat melihat jenazahnya, namun karena diistilah tionghoa mayat yang bujang harus sesegera mungkin dikramasi. Akhirnya jenazah tersebut dikramasi dan saya juga tidak melihat wajah abang,” ungkap Awi.

Kemudian, setelah selesai di kramasi bapak pulang dan mengecas handphonenya, lalu mengirim foto tersebut kepada keluarganya. Namun saat melihat foto tersebut, ibu mengatakan jenazah yang difoto bukanlah jenazah anaknya atau keluarganya.

“Setelah itu pada pagi sesudah melaksanakan kramasi, pihak yayasan rumah duka menelfon bahwa jenazah tersebut bukanlah jenazah Sing Peng. Tidak berselang beberapa lama Pihak RS. Bhayangkara Batam menghubungi dan memberitahukan bahwa jenazah Sing Peng tertukar,” ucapnya.

Awi menambahkan, setelah pihak rumah sakit menelfon, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena jenazah Abdul Hamid telah dikramasi.

“Kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena jenazah tersebut telah dikramasi dan abunya juga tidak bisa diambil pada malam hari tersebut,” tambah Awi.

Seharusnya pihak rumah sakit telah menyerahkan jenazah dengan sesuai data yang ada, kalau sudah begini bagaimana kelanjutannya. Biasanya disekitar tubuh mayat diberi identitas dikakinya, namun bapak tidak melihat itu ada pada jenazah tersebut.

“Kalau sudah terjadi hal seperti itu bagaimana pertanggung jawaban pihak rumah sakit. Apakah RS. Bhayangkara Batam bersedia bertangguh jawab akan hal tersebut,” tegas Awi.

Pihaknya juga sudah mempertanyakan bagaimana nantinya tangung jawab dari pihak RS Bhayangkara Batam. Namun hingga saat ini belum ada kepastian.

“Kami berharap abg kita bisa dimakamkan sesegera mungkin karena sudah lebih dari empat hari,” pungkasnya.


Laporan : Yuyun | Editor : Fikri

  • Bagikan