
KUTIPAN – Cabai memang selalu punya cara sendiri untuk bikin dapur gelisah. Hari ini mahal, besok bisa lebih mahal. Karena itulah, kabar dari kebun kecil di Batu Kacang ini terasa seperti angin segar tidak sampai bikin harga turun seketika, tapi cukup untuk bikin hati agak tenang.
Di antara tanah yang dirawat dengan sabar dan pupuk yang harganya tak pernah ikut turun, petani cabai lokal di Lingga menaruh harapan besar pada panen Januari 2026. Bukan cuma soal untung-rugi, tapi juga soal memastikan dapur warga Lingga tetap ngebul tanpa harus terlalu sering mengeluh harga cabai.
Salah satu petani cabai lokal Lingga, Budi, menceritakan bahwa tahun ini ia menanam sekitar 4.000 batang cabai merah keriting. Angka yang terdengar sederhana, tapi menyimpan harapan besar bagi pasokan cabai di Dabo Singkep dan sekitarnya.
“Untuk tahun ini Alhamdulillah kita tanam cabe 4 ribu batang, cabe merah kriting, untuk harga pasaran saat ini sekitar Rp 80.000 perkilo,” kata Budi saat ditemui di kebunnya di Batu Kacang, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, Jumat (19/12/2025).
Menurut Budi, satu batang cabai bisa menghasilkan hingga satu kilogram cabai saat panen. Jika hitungan ini berjalan mulus tanpa gangguan cuaca dan hama, hasilnya cukup menjanjikan untuk pasar lokal.
“Satu batang pohon bisa menghasilkan 1 kilo perbatang. kita berharap mudahan-mudahan awal tahun hasil panen dapat untuk di jual,” katanya.

Soal harga, cabai lokal Lingga memang tak bisa dibilang murah. Namun, Budi menyebut selisih harga dengan cabai luar daerah seperti dari Jambi punya alasan yang masuk akal. Cabai lokal dihargai sekitar Rp 80 ribu per kilogram, sementara cabai dari Jambi berada di kisaran Rp 70 ribu.
“Harga mengikuti pasar, kalau harga jambi biasanya lebih mahal yang lokal, kalau jambi harga Rp 70 ribu kalau yang asli lokal Rp 80 ribu perkilo.”
Perbedaan harga sekitar Rp 10 ribu per kilogram itu, kata Budi, bukan tanpa sebab. Biaya perawatan tanaman dan pupuk yang mahal membuat cabai lokal mau tak mau dijual sedikit lebih tinggi.
“Untuk harganya lebih tinggi dari cabe luar, di perkirakan perbandingan harganya Rp 10 ribu,” kata Budi.
Budi menjelaskan, masa tanam cabai keriting dan cabai rawit oleh petani lokal dimulai sejak Oktober 2025 lalu. Jika sesuai rencana, masa panen akan masuk pada Januari 2026. Artinya, awal tahun nanti Lingga tak perlu terlalu cemas soal pasokan cabai.
“Masa tanam cabe kriting dan cabe rawit pada bulan Oktober 2025 lalu akan memasuki masa panen di Januari nanti,” katanya.





