
KUTIPAN – Di Dabo Singkep, harapan sering kali tumbuh lebih cepat daripada bangunan pabrik. Salah satunya datang dari Fajar, pemuda Bukit Timah yang sempat membayangkan masa depannya akan dimulai jauh dari Lingga di China, lewat program rekrutmen PT Tianshan Alumina Indonesia.
Program itu bukan sekadar kerja. Dalam cerita yang beredar di antara para peserta, ini adalah paket lengkap, belajar, dibekali uang saku, pulang kampung sesekali, lalu kembali sebagai tenaga strategis saat perusahaan mulai beroperasi. Sebuah janji yang terdengar seperti jalan pintas menuju masa depan yang lebih mapan.
“Program training tuh lebih dijanjikan program kuliah sekalian dengan uang saku, dibiayain untuk transportasi ke Cina itu dibayar juga,” ungkap Fajar saat ditemui usai keluar dari kantor perwakilan perusahaan PT Tianshan Alumina Indonesia di Dabo Singkep, Jumat (19/12/2025) sore.
Sore itu, Fajar tak datang sendirian. Ia bersama sejumlah rekan yang sama-sama lolos rekrutmen program belajar ke China. Mereka datang dengan satu tujuan sederhana, mencari kejelasan. Sebab, hingga kini, pabrik yang dijanjikan belum juga beroperasi.
Di antara obrolan pelan di depan kantor perwakilan perusahaan, beredar pemahaman yang sama, PT Tianshan belum bisa jalan karena urusan izin. Bukan izin biasa, melainkan izin dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertahanan, mengingat lokasi proyek yang berdekatan dengan area latihan tempur militer.
Sambil menunggu kepastian itu, Fajar mencoba mengingat lagi detail janji yang pernah disampaikan. Skema programnya cukup panjang, dua tahun belajar di China, dengan kesempatan pulang ke Indonesia setelah satu tahun.
“Belajar di China selama 2 tahun, boleh pulang ke Indonesia setelah 1 tahun belajar, cuti mengujungi keluarga selama 14 hari. Dan habis itu balik ke Cina untuk menyelesaikan program belajar itu,” jelasnya.
Selama di China, peserta juga dijanjikan uang saku bulanan. Bukan sekadar simbolis, tapi cukup untuk hidup layak sebagai pelajar di negeri orang.
“Dua tahun di Cina, itu perbulannya kalau di Rupiah kan sekitar enam jutaan perbulan,” katanya.
Soal ongkos perjalanan pun tak luput dari janji. Tiket pulang-pergi, kata Fajar, masuk dalam tanggungan perusahaan tentu dengan syarat tertentu.
“Jadi selama dua tahun itu boleh pulang satu kali, dengan syarat sudah setahun. Dan ongkosnya pulang-pergi juga ditanggung. itu janji Tianshan,” ujar Fajar.
Namun, cerita tak berhenti di bangku kelas dan uang saku. Ada janji lanjutan yang lebih besar, posisi strategis setelah selesai mengikuti program kerja di China itu.
“Setelah selesai belajar di China dijanjikan oleh PT Tianshan posisi strategis di perusahaan PT Tianshan Alumina Indonesia yang akan beropearasi di Lingga,” tambahnya.
Bahkan, kata Fajar, kontrak kerja awal juga sudah disebutkan sejak awal.
“Dan dijanjikan di kontrak pertama itu tiga tahun,” pungkasnya.
Bagi Fajar, program ini bukan sekadar soal dirinya. Ia melihatnya sebagai peluang meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal agar orang Lingga tak hanya jadi penonton ketika industri besar datang, tapi juga bagian dari roda yang menggerakkannya. Kini, semua janji itu masih menggantung di udara, menunggu satu hal yang tak bisa mereka urus sendiri, izin yang belum turun.





